Lagu Pop dan Durasi 3 Menit

Dalam industri musik pop, lagu-lagu yang berjejer manis di tangga lagu bergengsi seperti Billboard 100 contohnya, adalah mereka yang merilis lagu-lagunya yang hanya berdurasi 3 menit, seperti contoh: Per 22 November, ada nama-nama seperti “Shake It Off” milik Taylor Swift (3:39) “All About That Bass” milik Meghan Trainor (3:08) dan “Animal” milik Adam Levine cs (3:49).

Lalu, mengapa hanya 3 menit?

Kembali ke periode 1900-an, semua bermula ketika semua rekaman masih menggunakan medio vinyl 10 inci dengan kecepatan 78 rpm. Dengan kapasitas dan kecepatan yang masih terbatas, piringan hitam hanya dapat memuat 3-5 lagu per sisinya.

“Kalau melebihi daya tampung [lagu], alurnya akan terlalu rapat, sehingga kualitasnya akan menurun,” imbuh Thomas Tierney, director of Sony Music Archives Library.

Tuntutan yang lebih memang harus dibebankan kepada artis-artis periode abad 20-an. Kebutuhan mereka untuk merilis materi yang lebih cepat dan praktis—untuk dijadikan single menjadi salah satu kewajiban. Alasan lainnya adalah untuk diputar di radio, media sosial, blog dan web musik seperti Soundcloud dan Bandcamp.

“Masa sekarang, merekam lagu lebih dari 3 menit 15 detik, orang-orang cenderung tidak berniat untuk mendengarkannya,” tambah Tierney.

Pernyataan di atas mengacu pada lagu The Righteous Brothers, “You’ve Lost That Lovin’ Feeling” yang versi aslinya berdurasi 3 menit 45 detik, lalu dikompres menjadi 3 menit 5 detik agar bisa dimainkan oleh DJ.

Hasilnya mengejutkan, lagu tersebut menjadi lagu yang paling banyak diputar di radio-radio dan televisi Amerika Serikat di abad ke-20.

Mengapa, lagu-lagu populer masih tidak lebih dari 3 menitan?
Kalau sebuah lagu bisa “berhasil” di atas 3 menitan, mengapa tidak banyak para musisi dan artis yang mencoba?

Di era industri musik yang “haus” akan perhatian dari masyarakat seperti sekarang ini. Tidak seperti pada zaman kejayaan Led Zeppelin, para penggemar tidak terlalu peduli dengan album—mereka hanya mendengarkan single, menilai lalu pindah ke track berikutnya, begitu seterusnya. Yang lebih kejamnya lagi, beberapa penggemar masa bodoh dengan apa yang mereka dengar di radio.

“Tetapi ada beberapa perkecualian untuk jenis musik EDM (Electronic Dance Music) dan hip hop, yang sekarang sangat berpengaruh. Mereka cenderung memainkan musik lebih lama karena memang budaya klab yang harus memainkan musik dengan durasi panjang untuk membuat orang-orang di sekitarnya berjoget,” ujar Tierney.

Contohnya adalah ada lagu-lagu hip hop yang masuk dalam tangga lagu iTunes Top Songs, seperti “Tuesday” (ILOVEMAKONEN feat. Drake—5:21), “Bed of Lies" (Nicki Minaj feat. Skylar Grey—4:30) dan “I Don’t F**ck with You” (Big Sean feat. E-40—4:44).

Namun, itu hanya sedikit di antara kepungan musisi dengan lagu durasi pendek. Contoh paling nyata adalah album pop ‘1989’ milik Taylor Swift yang merajai segala tangga lagu. Sebagai catatan dan fakta menarik, bahwa hanya ada 2 lagu saja yang durasi sekitar 4 menit. Coba bandingkan dengan karyanya sebelumnya yang hampir setengah dari albumnya berdurasi panjang.

“Kaum muda akan selalu menjadi penikmat terbesar genre musik pop,” Tierney merangkum. “Mereka hanya ingin lagu yang mereka dengar mempunyai durasi pendek saja.”. (LR)

Sumber dari: Mashable