[REVIEW] BNI JAKARTA INTERNATIONAL JAVA JAZZ FESTIVAL 2016

Tahun Kedua Belas Salah Satu Festival Jazz Terbesar

Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta

Usia dua belas tahun untuk ukuran festival musik bukanlah sesuatu yang mudah untuk digapai. Apalagi dalam hal mempertahankan kualitasnya. Java Festival Production sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap festival ini tahu betul bagaimana cara menjaga acara bernama lengkap Jakarta International Java Jazz Festival.

Masih digelar di utara Jakarta, tepatnya di JIEXPO Kemayoran. Java Jazz tahun ini mengusung tema mengeksplorasi Indonesia yang sebenarnya sudah mereka bawa sejak 2 tahun belakangan ini. Kalau tahun lalu mengangkat batik sebagai ikonnya, kali ini bergeser sedikit ke daerah Toraja.

Dibagi menjadi 11 panggung yang tersebar di semua hall dan beberapa panggung di luar dan bagian dalam di daerah dekat lobi, Java Jazz Festival tahun ini tergolong tidak begitu ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin dipengaruhi oleh beberapa musisi yang kerap datang setiap tahunnya yang menyebabkan orang sedikit jenuh.

Hal ini terbukti ketika Robin Thicke yang menjadi musisi pertama yang mendapatkan jatah special show. Walau tetap didominasi oleh wanita, sejatinya BNI Hall cenderung lowong. Thicke yang membuka malam itu dengan lagu “Give It 2 You” dan memainkan lagu-lagu seperti “Lost Without You”, “Magic”, dan ditutup oleh “Blurred Lines” yang kembali menghangatkan penonton untuk menggoyang badannya. Walau terkesan datar, Thicke tampil atraktif dan selalu membuat para wanita berteriak histeris.

Kondisi kontras justru terlihat sewaktu grup lawas Tokyo Ska Paradise Orchestra unjuk gigi. Bermodalkan lagu-lagu khas musik ska yang menggoyang, Nargo dkk berhasil menyulap MLD Hall menjadi lebih “berkeringat”.

Hari pertama ditutup oleh penampilan Glenn Fredly, Yura Yunita, dan Nor Salleh hingga lewat tengah malam.

Di hari kedua, jajaran musisi yang lebih padat dan variatif seakan memberikan angin segar, karena penonton yang datang jumlahnya berkali-kali lipat dari hari sebelumnya. Di awal-awal tak lama setelah gerbang dibuka sudah ada RAN, Kunto Aji, Ron King Big Band, dan 5 Romeo yang ditunjuk untuk bermain terlebih dahulu.

Yang cukup mengejutkan, grup post-bop, BadBadNotGood. Grup yang pernah kolaborasi dengan Tyler, The Creator hingga membuat album dengan Ghostface Killah justru mampu menyedot perhatian. Petikan bass serta dentuman drum yang temponya tak terbaca mengundang tepuk tangan penonton yang hadir. Bahkan beberapa di antara penonton datang hanya untuk menonton grup asal Kanada tersebut.

Ada yang berbeda di special show di hari Sabtu tahun ini di mana peniup terompet Chris Botti memadumadankan antara terompet dengan petikan bass milik Sting. Tembang-tembang seperti “If I Ever Lose My Faith in You”, “Bourbon Street”, “Seven Days”, dan lagu kover milik Frank Sinatra, “In the Wee Small Hours”. Penampilan Botti yang mengenakan setelan jas yang lebih rapi dan Sting yang lebih kasual dengan jaket dan kaos mengundang tepuk tangan penonton yang didominasi orang-orang yang besar di medio 80-90an.

Dengan total 25 lagu yang dimainkan, aksi Botti dan Sting meninggalkan gurat senyum penonton yang datang malam itu.


Teks oleh: Leonardus Rahadimas

Foto oleh: Sancoyo Purnomo