[REVIEW] Sonic Fair 2015 Live in Jakarta

LENGANG NAMUN TETAP BERISIK

Auditorium Ancol Beach City, Jakarta

Ketika kita dihadapkan pada suatu masa di mana kita harus menciptakan sesuatu yang baru, tak sedikit yang akan menganggap sinis, dan kerasnya adalah orang tak tertarik sama sekali untuk mencicipi. Ini pula yang dihadapi oleh Sonic Fair 2015 kemarin malam. Namun, mereka datang dilengkapi dengan sesuatu yang hebat.

Permasalahan umum dalam menggelar acara, apalagi baru, adalah di mana memancing ketertarikan konsumen—dalam hal ini penonton—untuk datang. Sebenarnya tidak baru-baru amat dalam segi konsep. Sonic Fair adalah pecahan kecil dari Hammersonic Festival dari rahim yang sama, yakni Revision Live. Dikemas dengan skala yang lebih kecil, Sonic Fair seperti membuat versi eksklusif dari acara “sang kakak”.

Kurangnya daya pikat penonton juga sedikit membuat bingung. Padahal sudah dipersenjatai deretan artis lokal macam Burgerkill, Seringai, Parau, Down for Life dan masih banyak lainnya, serta 2 artis pamungkas grup metal kawakan dari Inggris, Carcass, dan metalcore dari Amerika Serikat, Killswitch Engage. Anggap saja lokasi acara yang kurang strategis di mana lineup yang tidak terlalu banyak, sehingga pengorbanan penonton untuk datang tidak begitu besar.

Tetapi justru kegelisahan tersebut ditepis oleh Down for Life. “Buat apa ramai tetapi tidak bersama orang-orang yang tidak menyenangkan. Sepi atau ramai tak masalah, yang penting kita bersenang-senang di sini,” ujar Stephanus Adjie dilanjutkan dengan jingkrakan yang menjadi ciri khas grup asal Solo tersebut.

Begitu juga dengan Seringai yang dimotori Arian13 yang ternyata dinanti penonton. Tak bisa dipungkiri, Seringai menjadi titik balik malam itu. Walau tetap tergolong lengang, tapi satu persatu penonton mulai berdatangan masuk. Imbasnya, dalam jarak 10 meter dari bibir panggung, circle pit terbentuk menghiasi “Skeptikal”, “Akselerasi Maksimum”, “Program Party Seringai”. Tak jauh berbeda, aksi Burgerkill yang akan mengisi pos Wacken Open Air di Jerman tahun ini juga begitu hebat. Pertunjukan dinamis vokal Vicky dan gitar Ebenz begitu padu di atas panggung memberi energi yang kuat. “Kalian mau wall of death? Sok, malam ini punya kalian,” terang sang vokalis mengamini rencana gerakan masif tersebut.

seringai-9280.JPG

Keunikan Sonic Fair tahun ini juga bisa dilihat dari artis inti yang didapuk menjadi kasta tertinggi. Rentang jangkau yang dicakup bisa dikatakan begitu luas. Carcass yang sudah melanglang buana sejak akhir 80an yang berarti akan lebih banyak pria-pria paruh baya, dan Killswitch Engage yang mewakili generasi kini yang masa mudanya banyak dihabiskan mendengar musik metalcore. Bisa dimaklumi, Killswitch Engage yang puncak jayanya diisi oleh Howard Jones, hingga mikrofon kembali ke tangan Jesse Leach (sebelum Jones, Leach adalah vokalis asli), belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia.

Aksi Carcass begitu luar biasa. Dengan tata suara yang heboh dan komposisi yang seimbang, Jeff Walker bak berhasil menyeret musisi-musisi lokal pengisi Sonic Fair yang banyak terinspirasi dari Carcass untuk kembali ke era kejayaan grup bernafaskan death metal itu. Lagu “Heartwork” yang digarap oleh Michael Amott (eks gitaris Carcass dan juga pemain gitar Arch Enemy) dari album yang bernama sama tersebut menjadi penutup mesin waktu grup asal Liverpool tersebut.

Setelah pergantian latar panggung dan instrumen yang relatif kilat, Killswitch Engage mengambil alih panggung. Tak kalah prima, Leach meluluh lantahkan isi auditorium. Kendati dibalut panggung yang sederhana, penampilan mereka jauh dari kata itu. Pergerakan Adam Dutkiewicz (gitar), Joel Stroetzel (gitar), dan Mike D’Antonio (bas) yang cair secara bergantian mengisi kanan kiri panggung menyimpulkan betapa atraktif mereka. Nomor-nomor seperti “My Last Serenade”, “Rose of Sharyn”, “The Arms of Sorrow”, dan “My Cursed” mengundang penonton melakukan gerakan menganggukkan kepala dan kepalan tangan dan gestur 3 jari ke udara.

Sebelum menyudahi tugas mulianya, vokalis berambut eksentrik itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya bisa menghibur penikmat musiknya di Jakarta. Ia tak lupa mengucapkan terima kasih.

Text oleh: Leonardus Rahadimas W.

Foto oleh: Sancoyo Purnomo