[REVIEW] Katy Perry Live In Indonesia

TEMATIS, KOLOSAL, DAN KATY PERRY TAHU BENAR CARA MENJADI SEORANG IDOLA

 

Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang

Mendapatkan kesempatan kali kedua untuk datang ke Indonesia rasa-rasanya tidak dilewatkan begitu saja oleh Katy Perry untuk menggelar sesuatu yang biasa dan ala kadarnya; penonton pun juga sangat beruntung bisa menjadi saksi mata pertunjukkan kelas wahid. Kedua elemen ini menjadi bersinerji dan menyatu dalam The Prismatic World Tour.

Agak berbeda dengan tur sebelumnya—California Dreams Tour—yang suasananya lebih ceria dan berwarna-warni, aksen ala sirkus bertebaran, kostum yang seakan membuat kita berada di dunia dongeng, kunjungan terbaru Perry terkesan lebih futuristik, teatrikal, walau sesekali di lagu tertentu tema sebelumnya juga kembali dimainkan dalam porsi berbeda.

Di bawah payung Ismaya Live sebagai pihak penyelenggara, konser kedua Katy Perry, Sabtu (9/5) lalu dipadati oleh varian penonton yang datang. Dari sekumpulan anak kecil yang masih didampingi oleh orang tuanya, remaja, hingga tingkatan yang lebih tua. Maklum, lagu-lagu Perry memang bisa dinikmati oleh rentang usia yang luas.

Berbekal 17 lagu inti ditambah beberapa interlude tanpa vokal, Perry membagi urutan lagunya menjadi 7 bagian terpisah. Ada Prismatic, Egyptian, Cat-oure, Acoustic, Throwback, Hyper Neon, dan Encore sebagai puncak acara. Masing-masing bagian mewakili tema tersendiri dengan sejumlah lagu yang dibawakan.

Membuka pertunjukkan ke 139 dalam rangka The Primastic World Tour-nya, “Roar”, “Part of Me”, “Wide Awake” disajikan dengan tema Prismatic yang mutakhir. Dengan visual tajam dan nyala lampu neon yang ditempel pada kostum penari latar serta Perry sendiri, Perry yang menggunakan kostum setelan busana pendek dengan sepatu boots tinggi mengawal teriakan lantang penonton yang sudah tak sabar menyaksikan idola yang sempat dibuka oleh duo DJ-biola, The Dolls.

Dengan cepat tanpa melempar basa-basi ke penonton ia menyudahi Primastic dan memutar mesin waktunya menuju tahun 70-an Sebelum Masehi. Dengan tema Mesir kuno, Perry yang bedandan bak Kleopatra datang membawa properti seekor kuda ke atas panggung untuk menemaninya membawakan “Dark Horse”. Selanjutnya “E.T.”, “Legendary Lovers”, dan “I Kissed a Girl” tanpa kuda namun tetap dengan penari latar yang didandani seperti dayang-dayang dinasti Mesir.

Perry yang awalnya diduga kurang komunikatif langsung menepis dugaan tanpa beralasan itu. Dengan gimmick ingin belajar berbahasa lokal, bekas kekasih John Mayer itu menunjuk penonton yang beruntung untuk naik ke atas panggung. Setelah sedikit fasih dengan kata “aku cinta kamu”, “terima kasih”, Perry berlagak meminta penonton tersebut untuk menerjemahkan kata selfie dalam bahasa Indonesia dengan ujung mereka berfoto bersama yang diikuti oleh riuhan cemburu ribuan penonton lainnya.

Perry tak hanya membawakan lagu-lagu dengan aransemen yang bersemangat dalam kesempatannya. Dibalut gaun dengan motif bunga matahari kompak dengan latar dan properti pada mic stand sambil membawa gitar berbalut glitter, ia mampu membawa suasana lebih sendu seperti pada “By the Grace of God”, “Unconditionally” dan “The One That Got Away” yang digabung dengan “Thinking of You” yang berakhir air mata pada beberapa penggemarnya yang beberapa kali disorot sambil ikut bernyanyi bersama-sama.

Dengan produksi masif, Perry dan timnya tak hanya memperhatikan hal-hal besar saja. Hal kecil macam menempel lampu pada badan gitar Casey Hooper dan Nathan Spicer tak luput dari perhatiannya. Begitu pula dengan kostum yang dipakai Perry sepanjang konser. Terhitung lebih dari 4 kali ia berganti kostum disesuaikan dengan tema pada lagu yang dibawakan.

Selain variabel rinci yang tak luput dari pandangannya, ia juga menambahkan Prism Vision pada tur nya kali ini. Yang menarik, Prism Vision adalah pemberian efek tiga dimensi penggabungan tata cahaya dan LED latar yang hanya bisa dinikmati lebih jelas dengan menggunakan kacamata khusus dan Perry melakukannya untuk “Firework” sekaligus menutup penampilannya di Indonesia.

Tampak jelas raut wajah senang setelah konser disudahi. Yang artinya penyanyi bernama asli Katherine Elizabeth Hudson itu tahu benar cara mengemas sebuah gelaran kelas premium yang memanjakan mata sekaligus menjadi idola. Wajah muram mungkin tampak ketika penonton terjebak macet saat pulang menuju rumah.

Text oleh: Leonardus Rahadimas W.

Foto oleh: Dok. Ismaya Live