[REVIEW] Mew Live In Jakarta

KUARTET INDIE ROCK BAWA KEINDAHAN DAN KEMEWAHAN KOTA HELLERUP

Skenoo Exhibition Hall, Gandaria City, Jakarta

Menilik kota Hellerup, adalah sebuah wilayah yang tidak terlalu besar di dataran utara Eropa, semenanjung Skandinavia tepatnya di Negara Denmark. Walau berpredikat sebagai kota pinggiran, namun Hellerup adalah kota yang cukup “wah”, dan bahkan menjadi daerah paling makmur di utara Kopenhagen, Ibukota Denmark.

Dengan predikat wilayah yang makmur, tak heran pertumbuhan Hellerup termasuk pesat. Kendati letaknya di pinggir selat yang menghubungkan Denmark dan Swedia, Hellerup adalah kota yang indah. Dengan mudah bisa dijumpai gedung-gedung megah 5 lantai sebagai tanda baiknya perekonomian di sana, lalu diimbangi dengan tempat tinggal kuno yang masih terpapar di pinggir dan tiap sudut jalan. Begitu sejahteranya, biaya hidup di kota tersebut tergolong agak tinggi. Dengan rataan 8000 krone atau sekitar 15 juta rupiah, adalah mahar yang harus dihabiskan untuk biaya pangan per bulan.

Mew, kuartet indie rock kembali mendapat kesempatan untuk menghibur penggemarnya di Jakarta. Walau sudah kesekian kali, konser di bawah Marygops Studios tadi malam adalah kali pertama tampil dengan formasi asli. Sang bassist, Johan Wohlert kembali setelah beberapa kesempatan setelah ia sempat mundur dan mereka main dengan pemain pengganti.

Kredibilitas Mew sebagai grup yang sudah matang dengan jam terbang tinggi memang pantas diacungi jempol. Menempati Skenoo Exhibition Hall, Gandaria City yang tidak terlalu besar, toh mereka tetap menunjukkan kelasnya. Bermodalkan 16 lagu, ribuan pasang mata frengers (sebutan untuk penggemar Mew) begitu dimanjakan dengan penampilan grup yang sudah merilis setidaknya 6 album fisik tersebut.

Kecintaan Mew pada Indonesia bisa jadi terlihat dari betapa mereka begitu tulus dalam memilih lagu yang akan dimainkan. Tembang lawas seperti “Coffee Break” dan “She Come Home for Christmas” dari album pertama ‘A Triumph for Man’ rilisan tahun 1997 yang nyaris tak pernah dibawakan secara langsung. Semalam Jonas Bjerre dkk justru membuka aksinya dengan lagu lama. Hal berbeda dengan konser mereka di Singapura beberapa hari lalu.

Suara-suara skeptis mengenai venue­ yang dipakai sebagai tempat acara justru tidak tampak. Malahan hal kontradiktif ditampilkan secara maksimal tadi malam. Hasilnya, tata suara menggelegar mengisi satu ruangan. Ketepatan operator dalam mengatur suara yang dihasilkan pantas diberi penghargaan khusus. Suara tinggi Jonas, genjrengan gitar Bo, dan dentuman bas drum beserta simbal Silas tak ada yang berlebih. Semua bak ada di satu level dengan kemegahan yang sempurna. Dampaknya adalah penonton begitu bersemangat ketika “Am I Wry? No” dan“156” dimainkan secara berurutan.

Dengan tajuk tur promo album terbarunya, ‘+-‘ yang akan dirilis akhir bulan ini, mereka tak serta merta membiarkan “Satellites”, “My Compilations”, dan “Water Slides” lewat begitu saja. Di saat album tersebut belum rilis di pasaran, tapi penonton terlihat tetap begitu enerjik menikmati suguhan yang nantinya akan berbeda dari rilisan album.

Tata suara yang istimewa juga diimbangi oleh tata cahaya yang mumpuni. Kendati menyulitkan para fotografer untuk mengabadikan mereka secara jelas di atas panggung, tetapi mungkin itulah Mew. Membangun atmosfir dengan cara dan gaya mereka sendiri. Cahaya panggung yang tidak pelit pun tak beragam serta lampu warna putih yang berkedip cepat justru secara berlawanan menjadi padanan manis untuk mengiringi seluruh lagu.

Sejumlah penonton mengungkapkan kepuasan mereka akan konser Mew. “Ada Coffee Break, She Came Home for Christmas yang jarang banget dibawain. Walau nggak ada backdrop, tapi lighting-nya luar biasa bagus!,” ujar Dion, penggemar berat Mew. Hal serupa juga diungkapkan oleh Junio. Walau bukan frengers tapi ia sangat menikmati penampilan grup asal negeri Hans Christian Andersen tersebut. “Pecah abis! Sound sama lighting-nya keren banget!”. Kedua komentar di atas pun diamini oleh Okky, salah seorang penonton wanita yang menyebut suara Jonas begitu mirip seperti di alat pemutar lagu miliknya. “Mew-nya bagus banget, aku puas. Konsernya pun nggak ngaret. Tapi sayang, selesainya cepet banget,” keluhnya.

Jonas Bjerre, Bo Madsen, Johan Wohlert, dan Silas Utke Graae Jørgensen berasal dari Hellerup. Dalam 13 lagu ditambah 3 lagu puncak: “Special”, “The Zookeeper’s Boy”, dan “Comforting Sounds”, tadi malam mereka berhasil membawa kemewahan serta keindahan dari tempat mereka berasal beribu-ribu kilometer menuju Indonesia.

Text oleh: Leonardus Rahadimas W.

Foto oleh: Sancoyo Purnomo