[REVIEW] Hammersonic Festival 2015 Live in Jakarta

MALAM SAKRAL PASUKAN HITAM-HITAM

 

Lapangan D Senayan, Jakarta

Tidak ada yang lebih menggetarkan hati penyuka musik keras selain hari Minggu (8/3) tadi malam. Dalam jangka waktu lebih dari setengah hari, mereka bak dihajar dan dibanting oleh gempuran distorsi gitar dan pukulan drum yang bertubi-tubi.

Masih diadakan di Lapangan D Senayan, Hammersonic Festival tahun ini tidak terlalu banyak berubah apabila dibandingkan dengan acara serupa tahun lalu. Masih dengan konsep 2 panggung terpisah, yakni Hammer Stage dan Sonic Stage, serta jadwal main yang bergantian. Episode keempat festival metal terbesar se Asia Tenggara kali ini berisi 30-an artis pengisi, baik lokal maupun mancanegara.

Dibagi menjadi 2 sesi, sesi pertama yang main di siang hingga sore hari menampilkan beberapa nama seperti Trashline, Roxx, Mesin Tempur dan Death Vomit. Sedangkan di sesi berikutnya dimeriahkan oleh Ignite, Terrorizer, Unearth, Vader, The Faceless, Mayhem, dan Lamb of God sebagai puncak acara.

Dimanjakannya para penikmat musik yang kondang dengan tampilan hitam-hitam ini tercermin dari deretan artis yang ditampilkan. Kendati kondisi lapangan yang becek dikarenakan hujan di pagi hari, hampir seluruh elemen musik keras tersaji megah di sana. Namun sayang, di beberapa kesempatan suara yang dihasilkan dari masing-masing panggung cenderung kecil, tidak bulat, dan terkesan kurang garang. Seperti yang dialami ketika The Faceless, Ignite, dan Vader mendapat giliran tampil.

Tetapi hal tersebut langsung sirna ketika panggung Hammer kedatangan dedengkot black metal asal Norwegia, Mayhem. Dengan dihasilkannya tata suara tajam yang mumpuni, membuat vokal Attila Csihar bagai seorang pemimpin sekte yang sedang berkhotbah di depan ribuan umatnya. Aura muram dan gelap sempat mengelilingi panggung tersebut ketika “Freezing Moon”, “De Mysteriis Dom Sathanas”, dan lagu penutup “Pure Fucking Armageddon” dibawakan secara langsung.

Penonton yang memang datang untuk menonton Lamb of God memperlihatkan gestur berlawanan sewaktu Mayhem belum menyelesaikan set-nya. Berkali-kali terdengar tepukan sarkas yang mengindikasikan bahwa mereka tidak sabar untuk menonton Randy Blythe dkk. Bisa dipahami, mereka tampak seperti mengejar waktu tidur yang sempit mengingat keesokan harinya adalah hari produktif untuk kembali masuk kantor.

Molor beberapa menit dari jadwal, Lamb of God dengan cepat langsung menghajar penonton yang sudah memadati sektor panggung Sonic. Begitu Mayhem pamit, “Desolation”—yang dipilih menjadi lagu pembuka mengantar penonton menuju kepuasan akan hasrat yang sudah menumpuk.

Randy Blythesang vokalisingat betul dengan Indonesia. Sejak kedatangannya pertama kali ke Jakarta 6 tahun lalu benar-benar lekat dari kepalanya. Indonesia dirasa begitu spesial hingga beberapa kali Blythe memuji penggemarnya yang masih setia menunggu dirinya dan datang jauh-jauh dari luar Jakarta.

Lamb of God tadi malam seperti sedang memainkan album kompilasi lagu-lagu terbaiknya. Tembang-tembang macam “Ruin”, “Walk with Me in Hell”, “Set to Fail”, “Now You’ve Got Something to Die For”, “Redneck” tidak luput dari mata untuk dituangkan di atas setlist. Bahkan pada lagu “Laid to Rest” secara khusus dipersembahkan bagi penampil-penampil sebelum mereka.

Malam sakral ditutup dengan “Black Label”. Blythe sekali lagi memberi apresiasi tinggi pada penggemarnya di Indonesia. Walau tanpa encore, penonton tidak lantas kecewa, mungkin mereka langsung ingat dalam hitungan jam mereka harus beraktivitas kembali.

 

Text oleh: Leonardus Rahadimas

Foto oleh: Sancoyo Purnomo