[REVIEW] The 5th Music Gallery

BENTUK APRESIASI TINGGI MUSIK LOKAL OLEH MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

 

Skenoo Exhibition Hall dan Piazza Gandaria City, Jakarta

Salah satu bentuk kecintaan kita pada negeri sendiri tak perlu aksi muluk. Menghargai karya anak Bangsa dalam bentuk seni, seperti musik, misalnya, sudah bisa menjadi tolok ukur bagaimana kita bisa mengapresiasi produk dalam negeri.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam hal ini adalah mereka yang konsisten menyajikan acara musik setiap tahunnya. Dengan berbekal belasan musisi lokal, di episode ke-5 nya tahun ini mereka menambah satu artis internasional.

Bertempat di Gandaria City, The 5th Music Gallery memang tampil agak berbeda. Tahun lalu panitia menempatkan acara di Upper Room, Annex Building. Namun mungkin dikarenakan satu dan lain hal tahun ini mereka memindahkan lokasi acara.

Dibagi menjadi 2 tempat: Skenoo Exhibition Hall yang disulap namanya menjadi Pertamina Stage, dan Piazza yang diberi nama Nescafe Musik Asik Stage. Panitia membagi secara adil penampil yang akan manggung. Sebut saja Jirapah, Barasuara, Monkey To Millionaire, Ramayana Soul, Sore, Mondo Gascaro, The Trees & The Wild, Banda Neira, Tahiti 80 dan masih banyak lainnya.

Dimulai sejak siang hari, Bookstore Club, Selimut Cokelat, Circarama, Solace, dan Fourtwnty secara bergantian di kedua panggung menghibur penonton yang datang. Kendati belum terlalu padat, antusias pengunjung mal yang mungkin tadinya tidak tahu ada acara, dengan spontan langsung membeli tiket.

Kepadatan mulai terlihat ketika Jirapah dan Monkey To Millionaire mendapat giliran. Walau panggung Piazza tanpa pendingin ruangan, penonton yang datang menikmati betul “Humiliation”, “Senja Membunuh”, serta “Merah”. Di tempat terpisah Ken Jenie dkk berhasil menghibur panggung paling atas dengan musik fidelitas rendah yang menjadi andalannya.

Beberapa penonton yang datang ternyata cukup penasaran dengan Barasuara. Bisa dimaklumi, mungkin kebanyakan dari mereka memang terbilang jarang datang ke gig lokal macam Superbad. Iga Massardi—sang vokalis—mengakui kekagumannya terhadap penonton yang datang malam itu.

“Penonton kayak lo semua yang bikin gue semangat main musik,” ujarnya di tengah-tengah “Nyala Suara”, “Tarinitih”, dan “Sendu Melagu”. Dengan total 8 lagu yang dibawakan, penonton terlihat sangat puas dengan aksi enerjik dan bersemangat Iga Massardi dkk.

Selepas pukul enam sore giliran grup psikedelik bernafaskan musik India mengantar penonton merapat ke panggung Nescafe Musik Asik. Tembang seperti “Mawar Batu”, Jaya Raga Jiwa”, dan “Alumunium Foil” tak luput dari petikan sitar Erlangga Ishanders.

Tiket yang  terjual habis mungkin menjadi salah satu yang tidak diperkirakan oleh panitia. Imbasnya, antrian mengular dari eskalator hingga bioskop XXI. Daya beli yang masih tinggi membuat penjaja tiket tidak resmi bersedia membeli tiket dengan harga relatif tinggi. Kondisi berbanding lurus terjadi di area Pertamina Stage. Panitia sempat menutup sementara Skenoo Hall dikarenakan penonton yang terlalu rapat sehingga tidak memungkinkan untuk menampung orang lagi. Momen mengharukan di mana apresiasi terhadap musik lokal benar-benar dikibarkan. Tak sering melihat penampilan anak bangsa dihargai begitu tinggi seperti ini.

Puncaknya ketika The Trees & The Wild mendapat tempat. Hingga akhir pertunjukan penonton seakan dibuat bengong dengan aksi mencengangkan Remedy Waloni dkk. Mereka bak disihir oleh komposisi megah dalam deretan lagu-lagu yang dibawakan grup asal Bekasi tersebut. Air muka puas para penonton memberi tanda bahwa mereka sangat menikmati sajian grup yang pernah menjalani tur Eropa tersebut.

Tanpa banyak jeda, giliran grup indie-pop asal Perancis unjuk lagu-lagu baru mereka dari album ‘Ballroom’, seperti “Crush!”, “Seven Seas”, dan “Coldest Summer”. Selain itu juga dimainkan lagu-lagu dari album terdahulu seperti “All Around” dan “Gate 33”. Seperti dua kunjungannya terakhir, mereka selalu memilih “Heartbeat” sebagai lagu penutup.

Di ujung acara Naif dan Payung Teduh memisahkan penonton yang hingga larut malam masih terpaku di Gandaria City. Bermodal 9 buah lagu seperti: “Air dan Api”, “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat yang Ada di Seluruh Dunia”, dan “Benci Untuk Mencinta” penonton masih tampak bersemangat seakan tidak kenal rasa letih. Naif memang cermat dalam memilih lagu yang dibawakan. Lagu klasik macam “Piknik ‘72” yang merupakan lagu dari album debut ‘Naif’ [1998] masih dibawakan oleh David, Emil, Jarwo, dan Pepeng.

Text oleh: Leonardus Rahadimas W.

Foto oleh: Melina Anggraini