[REVIEW] Konser Mac DeMarco di Jakarta

TETAP VULGAR, RAHASIA SUKSES KONSER SLACKER ROCK MAC DEMARCO

 

Level II, The Foundry No. 8, SCBD, Jakarta

Tak perlu lirik yang memaksa untuk berpikir atau musik yang rumit untuk mencuri atensi penggemar. Cukup lirik jujur serta musik unik ditambah lawakan yang membumi dan sedikit kasar. Kalau bingung, coba tanya Mac DeMarco.

Kurang lebih atmosfer itu yang ditampilkan DeMarco tadi malam. Berbekal lagu-lagu yang diambil dari ‘Rock and Roll Night Club’, ‘2’ dan ‘Salad Days’, DeMarco, lewat duet kolektif Prasvana dan Studiorama berhasil mengumpulkan muda-mudi dari kancah hipster Ibukota untuk merapat ke tengah kota.

Konser malam itu dibuka oleh Jirapah, grup lokal beraliran indie rock yang tampil sekitar 30 menit. Grup yang dikawal Ken Jenie tersebut memainkan sejumlah lagu, salah satunya “Telephones”.

Baru naik panggung tepat pukul 21.00, DeMarco langsung padu dengan penonton. Tanpa harus lama beradaptasi, ia membuka konser perdananya dengan lagu “Salad Days” dilanjutkan dengan “The Stars Keep on Calling My Name”.

DeMarco adalah DeMarco yang vulgar seperti layaknya ia ketika tidak sedang di atas panggung. Cukup sering ia melontarkan banyolan kurang penting yang mengundang gelak tawa.

“I like to s*ck c*ck,” ucapnya tanpa ekspresi tak lama konser baru dimulai.

Beberapa penonton yang sudah jatuh cinta dengan DeMarco, melemparkan sebungkus rokok ke atas panggung sebagai bentuk apresiasi. Bahkan, penyanyi asal Kanada ini memplesetkan judul lagunya dengan merk rokok yang dilempar.

Polah DeMarco semakin nyeleneh. Ia menjepitkan batang rokok pada capo gitar lalu menghisapnya dari sana. Hal yang kurang lazim dilakukan seorang artis di atas panggung. Tapi sekali lagi penonton senang.

Kondisi di atas panggung juga layaknya panggung humor acara TV lokal ketika jeda antar lagu. DeMarco dan Pierce McGarry, sang basis, yang mirip Will Ferrell di film Anchorman: The Legend of Ron Burgundy versi pirang, tak henti-hentinya saling melempar guyonan berbau porno.

Soal kualitas tata suara menimbulkan komentar beragam. Beberapa penonton merasa tata suara tempat di mana mereka berdiri terdengar buruk, dan sedikit cempreng, namun beberapa diantaranya merasa baik-baik saja.

Seperti lagu “Brother”, “I’m a Man”, “Chamber of Reflection” dan “Still Together” yang mengundang koor massal terdengar tetap apik dengan kadar fidelitas rendah yang kental, tidak jauh berbeda dengan versi rekaman.

Variasi lagu yang dimainkan DeMarco sangatlah seimbang. Ada beberapa lagu yang tidak ditulis di setlist seperti “Rock and Roll Night Club” yang diambil dari album pertama, dan secara spontan beberapa lagu kover dari Steely Dan, “Du Hast” milik Rammstein, dan ditutup oleh “Enter Sandman” yang dipopulerkan oleh Metallica.

Penghargaan patut disematkan pada lengan Prasvana dan Studiorama. Di tengah gempuran musisi dengan label mendunia dengan skala masif, dua sejoli ini datang dengan segmentasi yang lebih khusus. Tanpa mengurangi rasa hormat, artis independen yang lebih jujur, terkadang lebih menarik untuk disimak.

Foto oleh: Melina Anggraini