[REVIEW] Konser Avenged Sevenfold di Jakarta

SETLIST PANJANG PELIPUR KEKECEWAAN

 

Parkir Timur Senayan, Jakarta

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, M. Shadows, vokalis Avenged Sevenfold selalu menyentil hal 3 tahun lalu yang membuat penggemarnya di Jakarta harus pulang dengan duka ketika pertunjukkan band kesayangannya harus dibatalkan karena satu dan lain hal.

“Kami akan berikan sesuatu yang berbeda nanti,” janji M. Shadows sewaktu konferensi pers sehari sebelum pertunjukkan.

Kurang begitu jelas apa maksud dari “sesuatu yang berbeda” yang ia sempat ucapkan. Tetapi, kalau maksudnya adalah mereka memainkan jumlah lagu yang lebih banyak ketimbang beberapa tahun lalu, sebagai pria dewasa sejati, vokalis bertubuh gempal tersebut sudah menyanggupi janjinya.

Tampil di hadapan ribuan orang dengan eskalasi panggung dibandingkan dengan pertunjukkan pertama dan keduanya di sini, band yang diawaki M. Shadows (vokal), Synyster Gates (lead guitar), Zacky Vengeance (rhythm guitar), Johnny Christ (bass) dan Arin Ilejay (drum) main sangat bersemangat.

Konser dibuka dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Penonton yang berekspektasi setelah lagu kebangsaan langsung “dihajar” oleh lagu-lagu Avenged Sevenfold terpaksa harus bersabar. Beberapa lagu seperti “Ride the Lightning” milik Metallica, “Walk” punya Pantera dan Back in Back oleh AC/DC dipersiapkan untuk memanaskan Parkir Timur Senayan yang dipilih menjadi tempat acara.

Intro “Shepherd of Fire” menjadi awal kegembiraan penggemar Avenged Sevenfold di Jakarta. Panggung yang megah, tata suara mumpuni yang menjadi harga mati sebuah konser khususnya konser rock, dapat disanggupi. Kemudian berturut-turut ada “Critical Acclaim”, “Welcome to the Family” yang ditujukan bagi mereka-mereka yang baru ‘bergabung’ menjadi penggemar dan selanjutnya “Hail to the King” dari album terbaru mereka.

"Jakarta, kalian selalu luar biasa!" sapa M. Shadows memulai percakapannya dengan para fans-nya.

Di awal, M. Shadows kembali mengungkit masalah yang menimpa mereka 3 tahun lalu dan menyebabkan gagalnya konser mereka. “Ayo kita berpesta dengan kembali ke era ‘City of Evil’,” teriaknya sambil dimainkannya intro “Beast and the Harlot”. Aksi Synyster Gates dan Zacky Vengeance dalam solo gitar masih apik. Tidak ada yang meleset ketika jari jemarinya berdansa di atas papan fret.

Tempo cepat harus diimbangi dengan sesuatu yang lebih melankolis dan santai. Pemilihan urutan lagu yang taktis juga menjadi kunci. Avenged Sevenfold seakan ingin larut dalam suasana yang mendayu itu dengan memainkan “Buried Alive” dan “Seize the Day”. Penonton yang begitu antusias sampai ikut bergumam di bagian solo gitar Gates.

Seperti berputar di era band asal Huntington Beach ini bermain di zaman ‘City of Evil’, di mana Gates kerap bermain solo gitar di tengah-tengah pertunjukkan. Hal serupa juga dipertontonkan semalam. Walau dengan beda variasi seperti versi lawasnya yang cenderung membosankan, Gates memberi variasi solo kromatik menyihir dan shredding kilat yang menjadi andalannya.

Padatnya penonton yang datang khususnya di sisi sayap kanan dan kiri serta tengah di daerah VIP membuat panitia mengguyur mereka dengan air dari mobil damkar demi menghindari dehidrasi atau pingsan akibat jarak antar penonton yang terlalu sempit.

Tiga lagu pemuncak tadi malam dibagi menjadi 2 bagian dalam 2 encore. Encore pertama dengan dua lagu yang membawa Avenged Sevenfold meraih posisi penting di jajaran grup rock yang disegani; yakni “Unholy Confessions” dan “Bat Country” tanpa jeda yang menimbulkan “gempa” hebat. Sayang, ketika lagu dari album ‘Waking the Fallen’ tersebut tidak ada komando khusus dari sang vokalis untuk membuat circle pit besar sambil diiringi riff “Crossroads”.

“A Little Piece of Heaven” didaulat sebagai lagu penutup. Sambutan baik pun datang dari kaum hawa yang ikut bernyayi bersama. Tak jarang dari mereka yang membawa pasangannya bernyanyi sambil berpegangan tangan.

Konser semalam begitu luar biasa. Nyaris lengkap di seluruh elemennya. Vokal M. Shadows yang sangat prima tanpa cacat selama hampir 2 jam patut diapresiasi. Visual LED high definition dengan kamera ganda juga menjadi bukti riil bahwa Avenged Sevenfold telah mengalami proses pemekaran secara kualitas.

 

Foto oleh: Melina Anggraini