[REVIEW] JAVA JAZZ FESTIVAL 2017

Tanpa Special Show, JJF 2017 Tetap Ramai Dikunjungi

JIExpo Kemayoran, Jakarta

Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2017 baru saja selesai diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut mulai dari tanggal 3 hingga 5 Maret 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Di tahun penyelenggaraan yang ke-13 ini, JJF menyuguhkan total 170 nama artis dan grup lokal dan internasional yang mengisi 14 panggung.

Serangkaian artis yang memikat tampil di opening JJF antara lain adalah Beady Belle, penyanyi cantik Emma Larsson, pianis Anthony Strong, Zap Mama, dan Jazz Orchestra of the Concertgebouw. Sedangkan dari Tanah Air, ada Tulus, Andien, Abdul and the Coffee Theory, Tompi dan The Groove yang juga sukses memanjakan telinga penonton yang hadir.

Tak kalah menyita perhatian adalah penampilan trio R&B asal Amerika Serikat, KING, yang juga albumnya “We Are King” menjadi nominasi kategori Best Urban Contemporary Album pada Grammy Award 2017 beberapa waktu lalu.

Tampil pada pukul 21.00 WIB, Rick Braun mencuri hati penonton sejak kemunculan pertamanya. Bagaimana tidak, Braun mulai memainkan terompetnya sambil berjalan-jalan di area duduk penonton dan mengajak penonton berjoget bersama.

Semakin malam keseruan JJF semakin memanas dengan penampilan Tribute to Whitney Houston dari Dira Sugandi, Lea Simanjuntak, Kamasean, dan Soundwave dengan iringan dari Sri Hanuraga band membawakan hits-hits ternama dari Diva yang meninggal pada tahun 2012 silam.

JJF hari pertama ditutup dengan penampilan nyentrik sang ratu bass, Nik West. Memakai busana kuning dengan rambut gaya mohawk-nya yang berwarna ungu, Nik West membuat waktu begitu cepat berlalu dengan membawakan lagu-lagu beralunan musik funk seperti “Bass Groove” dan “Funknroll”.

JJF Day 2 - 02.jpg

Semakin ramai di hari kedua, panggung-panggung JJFdiisi oleh artis yang banyak ditunggu seperti Goodluck Heiwa, Sergio Mendez, Incognito, dan The Chic Correa, pianis jazz ternama asal Amerika Serikat. Walau bertemakan musik jazz, banyak juga musisi lintas genre yang hadir seperti Gugun Blues Shelter dengan musik rock dan bluesnya, 90’s Hip Hop All Stars, serta hentakan beat asik musik EDM dari soundwave yang tampil on fire.

Memasuki hari terakhir, JJF dibuka oleh kolaborasi apik band lokal Barasuara dengan Ron King Horn Section yang merupakan pecahan dari Ron King Big Band. Kemeriahan berlanjut dengan penampilan Glenn Freddly yang membuat ribuan penonton mendadak romantis terhanyut oleh lagu “How Can I”, “Kau”, “Sekali Ini Saja”, dan “Kisah Romantis”.

Usai Glenn Fredly tampil, penonton tak lantas meninggalkan BNI Stage, justru bertambah dipadati pengunjung lain yang berdatanganan untuk menunggu penyanyi berdarah Afrika-Amerika Ne-Yo. Tampil menyanyikan 20 lagu hitsnya tanpa jeda, seperti “Let’s Go”, “Nobody”, “Let Me Love You”, “So Sick”, hingga “Miss Independent” membuat penonton tak henti bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama.

Hari ketiga ini memang dipenuhi bintang-bintang, seperti Elliot Yamin, jebolan American Idol season 5, Cyrille Aimée, Ras Muhamad, Armand Maulana, Monita Tahalea, dan ditutup sempurna oleh musisi legenda Indonesia, Iwan Fals. Ini merupakan kali pertama Iwan Fals tampil di JJF. Dengan sedikit aransemen, lagu-lagu seperti “Yang Terlupakan”, “Ijinkan Aku”, dan “Asik Nggak Asik” terdengar lebih jazzy.

Line Up yang tidak sevariatif tahun lalu serta tidak adanya special show pada Jakarta International BNI Java Jazz Festival tahun ini, tidak berpengaruh pada antusiatas para penonton yang hadir untuk tetap datang dan menyaksikan acara musik bergengsi ini. 

 

Teks oleh: Chika Putri

Foto oleh : Hafiyyan Faza dan Sancoyo Purnomo

[REVIEW] D'ESSENTIALS OF GROOVE

Tambah Usia, Maliq & D'Essentials dan The Groove Rayakan Bersama

Jakarta Convention Center, Jakarta

D’Essentials Of Groove yang digelar Selasa malam (6/9) di Jakarta Convention Center (JCC)  merupakan konser kolaborasi antara Maliq and D’Essentials dan The Groove. Konser dimulai tepat pukul 20.25 WIB. Penampilan mereka dibuka dengan lagu Heaven milik Maliq and D’Essentials.

Setelah itu, panggung menjadi milik Maliq and D’Essentials. Penampilan mereka dilanjutkan dengan lagu Setapak Sriwedari dan Aurora.

Welcome to D’Essentials Of Groove, ini adalah konser kolaborasi kami dengan The Groove dan merupakan konser pertama untuk Maliq and D’Essentials,” kata Angga kepada ratusan penonton yang dominan memakai baju putih sesuai dresscode.

Lagu keempat, Maliq membawakan Kangen dengan aransemen yang berbeda. Dilanjutkan dengan lagu-lagu andalan Maliq seperti Terlalu, Terdiam, dan Mendekat Melihat Mendengar. Suasana menjadi semakin asik dan penonton semakin bergoyang.

Puas bergoyang, Maliq and D’Essentials mengubah suasana menjadi lebih romantis dengan lagu Sampai Kapan dan Beri Cinta Waktu. Selanjutnya, penonton semakin ‘baper’ ketika lagu Untitled dibawakan. Menariknya, lagu ini dibawakan oleh penciptanya langsung, Widi Puradiredja.

Maliq and D’Essentials juga membawakan lagu Katakan Dengan Cinta dari The Groove. Diakhir lagu ini, Rieka dan Reza bergabung kembali ke panggung dan membawakan Drama Romantika. Belum habis kejutan dari Maliq dan The Groove, ditengah lagu ini, Ilman keyboardist Maliq memberikan gitar yang sudah ditanda-tangani oleh personil Maliq ke penonton.

The Groove mengambil alih panggung, kemudian mengajak penonton bernostalgia dengan medley lagu “You Are The Universe”, “Get Down On It” dan “Have Fun Go Mad”. Kemudian The Groove menghibur penonton dengan lagu-lagu andalannya seperti Satu Mimpiku, Bawalah Daku, Hanya Karena Cinta, Sepi, dan Khayalan. The Groove menutup sessinya malam itu dengan lagu The One milik Maliq and D’Essentials.

Menjelang akhir, Maliq and D’Essentials kembali ke atas panggung bergabung dengan The Groove dan kemudian membawakan single kolaborasi mereka, Coba Katakan Dengan Cinta. Setelah itu Maliq dan The Groove juga menghibur penonton dengan menyanyikan mash up lagu Dia dengan Bila, dan Pilihanku dengan Dahulu. D’Essentials Of Groove ditutup degan sangat meriah dengan lagu September dari Earth, Wind & Fire.

Teks oleh: Zefanya Mutiara

Foto oleh : Sancoyo Purnomo

[REVIEW] SIMPLE PLAN TAKING ONE FOR THE TEAM TOUR JAKARTA

Ubah Venue, Konser Simple Plan Tetap Memukau

Econvention Ecopark Ancol, Jakarta

Untuk kelima kalinya (Minggu, 4/9) band pop-punk asal Kanada, Simple Plan kembali menyapa para fansnya di Jakarta. Kedatangan Simple Plan kali ini merupakan rangkaian tour ‘Taking One For Team’ sekaligus promo album terbaru mereka yang dirilis Februari 2016 lalu. 

Sebelumnya, Simple Plan pernah hadir di Jakarta pada tahun 2005 dalam rangkaian tour ‘Still Not Getting Any’, kemudian tahun 2008 bersama One Republic, New Found Glory, dan Lost Prophets. Empat tahun kemudian, tahun 2012 Simple Plan kembali menghibur para penggemarnya di Indonesia melalui rangkaian tur promo album baru mereka saat itu ‘Get Yourt Heart On! Indonesia Tour 2012’. Terakhir, tahun 2013 Simple Plan hadir dalam ulang tahun salah satu TV swasta.

Sempat melakukan perubahan venue pertunjukkan dari Tennis Indoor Senayan menjadi Econvention Ancol rupanya tidak mempengaruhi penampilan Simple Plan yang tetap memukau malam itu. Tepat pukul 20.35, Pierre Bouvier dkk menyapa Astronauts (sebutan untuk fans Simple Plan) dengan sambutan “Apa kabar Indonesia” dan dibuka dengan lagu Opinion Overload.

Walaupun bukan pertama kalinya Simple Plan menyambangi Jakarta, antusiasme Astronauts nampak besar. Hal tersebut terlihat dari banyak diantara mereka yang tidak ragu untuk bernyanyi bersama. Jet Lag, Your Love Is A Lie, Summer Paradise, hingga lagu-lagu lawas milik Simple Plan seperti I'm Just A Kid, Shut Up, Welcome To My Life, dan I'd Do Anything pun tidak lupa untuk dibawakan.

Sekitar satu setengah jam Simple Plan menghibur Astronauts dengan sangat interaktif dan kurang lebih 19 lagu dibawakan, akhirnya pertunjukkan pun akan segera usai. Konser Simple Plan ditutup dengan Pierre meminta seluruh penonton untuk mengeluarkan handphone dan menyalakan flash. Perfect menjadi lagu yang mereka pilih sebagai lagu penutup penampilan mereka malam itu. “Terima kasih, aku cinta kalian’ kata Pierre seraya pergi meninggalkan panggung.

Teks oleh: Zefanya Mutiara

Foto oleh : Sancoyo Purnomo

[REVIEW] SONICFAIR 2016

Hujan Tidak Redupkan Semangat Metalhead

Lapangan Disjas Baros, Cimahi.

Lapangan Disjas Baros Cimahi sudah dipenuhi oleh metalhead Jawa Barat sedari sabtu (28/8) pagi hari. Nampak masih banyak metalhead yang masih mengantuk namun tetap setiap mengantri sedari pukul 07:00 WIB hanya untuk masuk ke acara bergengsi, Magnitude Sonic Fair 2016. Walau ternyata acara nampak berjalan terlambat, tidak mengusungkan niat metalhead untuk tetap mengantri.

Sonic Fair 2016 yang di selenggarakan oleh Revision Live ini bukan yang pertama kalinya hadir. Tidak hanya menggandeng musisi tanah air, Revision Live juga mengajak band mancanegara seperti Suicide Silence, Fleshgod Apocalypse, dan Deez Nuts.

Crowd (1) copy.jpg

Hari menjelang siang, para metalhead pun semakin banyak memadati area pertunjukkan. Kini giliran band Legendaris yang sudah menjelajahi Indonesia dengan musik death metal dari 1997, Beside untuk tampil. Walaupun tampil di kandang sendiri dengan durasi yang tidak lama, Beside tetap tampil maksimal. Lagu "Aku Adalah Tuhan" yang membuat nama mereka seterkenal sekarang menjadi penutup set penampilan mereka siang itu. 

Keadaan menjadi semakin tidak terkontrol ketika cuaca yang tadinya cerah menjadi sedikit mendung dan kemudian hujan deras, bersamaan dengan penampilan band Rosemary. Walaupun tidak berlangsung lama, sempat membuat metalhead melipir sebentar.

Dengan waktu yang tersisa sedikit mendekati adzan Maghrib, Jasad menyesuaikan penampilan mereka demi menghibur metalhead yang sudah menunggu mereka di baris depan. Namun hal tersebut tidak menjadi sebuah masalah bagi  band yang memiliki seorang frontman yang berpengaruh di dunia musik metal Indonesia yaitu Man "Jasad". Bahkan, Man "Jasad" sempat mengajak selfie para penonton dari atas panggung dan tetap tampil dengan gahar walau hanya sedikit lagu yang berhasil dibawakan. Toleransi agama sangat terlihat ketika Jasad baru memulai lagu ke empat namun harus berhenti ketika Adzan Magrib di kumandangkan.  "kita harus menghentikan penampilan ini untuk menghormati metalhead yang beragama Muslim. Kita tunjukkan bahwa Metal juga punya toleransi." Ujar Man "Jasad" yang menutup penampilan band yang baru saja selesai menggelar rangkaian tur Eropa tersebut. 

Fleshgod Apocalypse (1)A.jpg

Kembali ke Indonesia setelah pertama kali tampil di Hammersonic 2014, Fleshgod Apocalypse yang terkenal memakai corpse paint sebagai dandanan mereka tetap tampil dengan gahar di bawah teriknya matahari yang kembali bersinar. Dengan sedikit penambahan beberapa kipas angin di set panggung yang mereka minta agar tetap nyaman untuk bermain dengan tampilan mereka yang mungkin melihatnya saja sudah membuat kita cukup kepanasan, tampil dengan konsisten. Band technical death metal ini membawakan beberapa lagu baru dari album King yang baru dirilis 5 Februari 2016 kemarin dan juga lagu-lagu terbaik dari album mereka sebelumnya untuk menghibur dan memuaskan para penonton yang sudah memenuhi Lapangan Disjas Baros, Cimahi.

Tidak hanya menunggu penampilan artis mancanegara, metalhead juga setia menunggu band rock oktan tinggi asal Jakarta, Seringai. Dengan durasi yang terbilang sedikit, mereka membawakan set yang cukup menghibur dimulai dengan Intro "Canis Dirus" kemudian langsung dihajar tanpa ampun dengan "Akselerasi Maksimum" agar penonton langsung dibawa berlari berkeliling dalam pusaran brutal dalam lagu "Program Party Seringai".  Walau tidak sempat membawakan "Serigala Militia", Seringai menutup 2 set terakhir mereka dengan lagu "Mengadili Presepsi" kemudian disusul dengan "Dilarang di Bandung" yang menjadi penutup yang memukau di Sonic Fair 2016 kemarin.

Inilah band yang penampilannya juga paling ditunggu oleh para metalhead yang penasaran dengan mereka yang sudah tidak tampil selama 4 bulan di panggung musik Indonesia dikarenakan keluarnya salah satu drummer mereka saat itu yaitu Abah Andris, yang membuat mereka harus vakum sembari mencari pengganti personel yang duduk di kursi drum yang kosong itu. Sampai akhirnya mereka mendapati Putra yang juga dulu sempat bermain di band Killing Me Inside sebagai drummer (additional) Burgerkill untuk kembali menggempur panggung musik Indonesia. Kota asal mereka, Bandung, yang menjadi tempat dimulainya petualangan baru ini. Dimulai dengan lagu Penjara Batin, membuat para begundal (sebutan untuk penggemar Burgerkill) beraksi kembali. 

Suicide Silence akhirnya menggempur Indonesia, namun kali ini ada beberapa feel yang beda dengan vokalis baru mereka yaitu Hernan "Eddie". Hermida yang menggantikan Mitch Lucker yang terkena musibah kecelakaan di tahun 2012 yang menyebabkan nyawanya tidak terselamatkan tersebut tetap membuat Suicide Silence tampil hampir sempurna. Lagu-lagu seperti Unanswered, You Can't Stop Me, Slave to Substance, Wake Up, serta You Only Live Once dibawakan oleh mereka. Energi metalhead seakan semakin bertambah ketika Suicide Silence menghibur mereka, tak peduli pula dengan hujan serta sengat matahari yang telah mengenai mereka. Walaupun monitor sound Suicide Silence tidak berfungsi dengan baik, penampilan mereka tetap maksimal. 

The Sigit serta Turtle Jr yang dijadwalkan akan menghibur metalhead kembali di Sonic Fair 2016 terpaksa mengurungkan niat mereka dikarenakan perijinan yang terhambat. Banyak metalhead yang kecewa dengan keputusan panitia tersebut, dan masih menunggu apakah pemberitaan tersebut hanya candaan. Namun ternyata, The Sigit dan Turtle Jr benar-benar tidak tampil, sehingga penampilan Suicide Silence lah yang menutup perhelatan Sonic Fair 2016. Deez Nuts yang tidak jadi tampil di Sonic Fair 2016 yang sebelumnya juga membatalkan penampilan mereka di Medan Northblast 2016 dikarenakan masalah visa serta perubahan rundown secara mendadak nampaknya membuat Revision Live harus  lebih bisa mengatur rundown acara lebih baik lagi. Mengingat rundown yang telah mereka sebarkan beberapa hari sebelum acara menjadi berubah dengan apa yang di laksanakan pada hari H.

 

Teks oleh: Achmad Soni Adiffa

Foto oleh : Achmad Soni Adiffa dan Nancy Dhamayanti

 

[REVIEW] NORTHBLAST FESTIVAL 2016

Northblast Festival, Wadah Baru Untuk Pencinta Musik Metal di Medan

Lapangan Pekan Raya Sumatera Utara, Medan.

Perdana digelar di Medan, Medan Northblast 2016 sukses menyedot ribuan penggemar musik keras di Medan memenuhi Lapangan Pekan Raya Sumatera Utara Jalan Gatot Subroto Medan, Sabtu (27/8). Festival yang sebelumnya bernama Sonic Fair ini, tahun 2016 resmi berganti nama menjadi Medan Northblast dan akan menjadi agenda rutin tahunan di Medan. Hal ini sesuai yang dikatakan David, perwakilan promotor Revision Live pada konferensi pers yang dilaksanakan sehari sebelumnya bersama Suicide Silence, Fleshgod Apocalypse, dan SPR band rock asal Medan.

Acara yang sudah digelar sejak pukul 11.00 WIB ini, menampilkan band – band beraliran rock hingga metal. Dead Myth tampil sebagai pembuka acara menandai dimulai festival musik keras terbesar di Sumatera. Tampil dengan durasi setengah jam, Dead Myth sukses menggebrak panggung.

Dilanjutkan dengan penampilan Stand Up Please, band rock asal Medan ini cukup menjanjikan. Perlahan, crowd mulai memenuhi venue dan ikut bergoyang sambil menikmati penampilan Stand Up Please. Relix, menyambung estafet Medan Northblast 2016. Dengan durasi setengah jam, Relix tampil maksimal menghibur pencinta musik di Medan.

Jimjack dan Killa The Phia secara bergantian menghajar panggung Medan Northblast yang memang sudah dipersiapkan untuk memenuhi hasrat bermusik kota Medan. Panggung yang besar, tata suara, seakan tak mau kalah. Menurut David, panitia telah menyiapkan sound system terbaik yang mampu memberi pengalaman musik berbeda di Medan Northblast. “Kita siapkan sekitar 60.000 watt untuk mendukung tata suara maksimal di Medan Northblast,” ujar David.

Vintage Glasses, band Stoner Rock asal Medan ini mencuri perhatian. Single – single seperti Black Eyes and Fears hingga Reckless mereka bawakan. Kemudian ada Raung, band rock yang juga asal Medan semakin membuat suasana memanas. Gebukan drum penuh tenaga, suara gitar yang meraung, dan vokal yang prima, tak bisa menahan masa untuk tak bergoyang.

SPR, band rock punk yang sudah melegenda di Medan turut meramaikan Medan Northblast 2016. Roni, vokalis SPR mengatakan, awanya SPR tidak ingin tampil. Namun, karena menurutnya Medan Northblast akan menjadi salah satu pergerakan musik terbesar di Medan, maka akhirnya SPR memutuskan tampil. Hal ini disambut gembira oleh para pecinta musik di Medan yang cukup menunggu penampilan SPR.

Memasuki sore hari, Cranium band death metal asal Medan tak memberi jeda di gelaran Medan Northblast. Band yang mengusung genre death metal ini, termasuk band yang sudah melegenda di dunia permusikan Indonesia khususnya di Medan. Tampil beringas, para pecinta musik di Medan seakan tak kehilangan energi untuk melihat penampilan Cranium.

Setelah Cranium, Fingerprint pun langsung menghajar panggung Medan Northblast. Band Hardcore asal Medan ini adalah band rock asal Medan terakhir yang tampil di Medan Northblast. Walaupun tampil di sore hari, tak berarti mengurangi energi untuk tampil secara maksimal. Fingerprint menghajar panggung dengan ganas.

Revenge The Fate, band asal Bandung melanjutkan perhelatan Medan Northblast. Para penonton yang sudah menunggu, kembali merapatkan barisan ke depan panggung. Rocket Rockers kemudian menggempur panggung dengan lagu – lagu seperti Ingin Hilang Ingatan, Akhir Cerita dan Ingin Jadi Sarjana yang membuat venue semakin bergemuruh. Rocket Rockers tampil hingga mentari mulai terbenam di ufuk barat, dan acara memasuki break magrib.

Mentari perlahan turun, malu – malu dan akhirnya terbenam di ujung barat sana. Angin malam mulai terasa disusul langit berubah menjadi gelap. Usai break magrib, tepat pada pukul 19.00 WIB, satu persatu personil dari Fleshgod Apocalypse mulai masuk ke area panggung. Melihat itu, para penonton yang tadinya duduk selonjoran, sontak langsung berdiri sambil berteriak. Fleshgod Apocalypse malam itu cukup ditunggu. Tampil dengan mengenakan pakaian jubah, Fleshgod Apocalypse memainkan musik - musik death metal dengan tempo cepat, disusul suara gitar yang berdistorsi, ditambah dengan alunan keyboad seperti simfoni dengan tinggi. Suara bernada sopran, semakin menambah aura kegelapan yang diberikan Fleshgod Apocalypse. “Horas Medan. Are you ready?” ucap vokalis Fleshgod Apocalypse membuka penampilan. Lagu – lagu berjudul Marche Royale, In Aeternum, Gravity hingga The Forsaking mereka bawakan malam itu. Total sepuluh lagu yang dibawakan Fleshgod Apocalypse dalam gelaran acara Medan Northblast 2016.

Venue semakin memadat. Bendera Slank mulai berkibar di sudut – sudut lapangan PRSU. Slankers mulai mengambil tempat, memadat, merapatkan sembari mengibarkan benderanya menyambut penampilan sang idola. Akhirnya yang ditunggu – tunggu muncul. Slank menggebrak Medan Northblast langsung dengan lagu – lagu rocknya. Malam itu setlist Slank tak biasa, tak seperti pada penampilan – penampilan lainnya. Lagu – lagu Slank yang bernuansa rock dari album – album terdahulu dan terbaru digeber memuaskan hasrat para Slankers. Walaupun penampilan Slank tidak diperkuat Abdee, tak membuat musik Slank menjadi pincang. Mereka tetap bermain keras, petikan gitar Ridho dan betotan Bass Ivan, gebukan drum dari Bimbim, dan suara kaka tetap mampu memberikan musik Slank yang maksimal.

Kehilangan vokalis utama, Mitch Lucker, bukan berarti Suicide Silence tampil berbeda dengan vokalis mereka yang baru, Eddie Harmida. Suicide Silence malam itu tak tampil silence, mereka tampil menggemparkan, keras, suara gitar prima, serta nada tinggi Eddie Harmida membuat crowd tak bisa diam. Seakan tak bisa diam, crowd tak pernah berhenti bergerak, selalu bergoyang mengikuti komando Eddie dari atas panggung. Band death core asal Amerika Serikat ini tetap tampil layaknya Suicide Silence. “Ada atau tidak adanya Mitch, Suicide Silence akan tetap menjadi Suicide Silence. Tak ada yang berubah,” ujar Alex Lopez, penggebuk drum Suicide Silence. Selama satu jam penuh mereka menghajar panggung Medan Northblast 2016.

Band rock asal Bandung, The SIGIT kemudian mengambil posisi. Tanpa berlama – lama, lagu berjudul Detourn kemudian membuka penampilan mereka. “Selamat malam Medan,” sapa Rekti dari atas panggung. Insurgent Army Medan, sebutan fans The SIGIT, menyapa sembari berteriak. “Akhirnya tampil juga The SIGIT,” ujar Ridho salah satu penonton yang sudah menunggu The SIGIT sejak sore tadi. Single – single seperti Tired Eyes, Allright, dan lainnya berhasil menghapus rindu Insurgent Army Medan.

Hari semakin malam. Tak lagi diperkuat Abah Andris yang resmi mengundurkan diri dari posisi drummer Burgerkill beberapa waktu lalu, Burgerkill tampil prima dengan formasi baru di Medan Northblast 2016. Vicky pun langsung menggebrak panggung. Burgerkill yang tampil dengan pakaian serba hitam ini, tak menyia-nyiakan kesempatan setelah didaulat menjadi band penutup dalam gelaran Medan Northblast 2016. Berbagai hits seperti Penjara Batin dan lainnya mereka mainkan di depan para Begundal (Sebutan fans Burgerkill), Medan. Begundal pun merespon cepat. Mereka tak ingin aliran energi yang ada malam itu hilang ditiup angin malam begitu saja. Tepat pukul 12.00 WIB, Burgerkill mengakhiri pertunjukan Medan Northblast 2016 Medan. “Sampai jumpa lagi Medan,” ujar Vicky dan kemudian menghilang dari panggung.

 

Teks Oleh : Irfan Maulana

Foto Oleh: Irfan Maulana, M.Ikhsan, dan Ferdian Erman

[REVIEW] PRAMBANAN JAZZ 2016

Menikmati Indahnya Candi Bersama Alunan Musik Jazz

Candi Prambanan, Yogyakarta.

Sore itu (Minggu, 20/8), Plataran Candi Prambanan nampak lebih ramai dari biasanya. Acara Prambanan Jazz 2016 siap untuk segera digelar. Walau dimulai agak sedikit terlambat dari jadwal yang sudah terpublikasi, Prambanan Jazz dibuka oleh penampilan Everyday di panggung Wisnu. Nampak belum ramai penonton yang hadir pada sore itu. 

Selang tiga puluh menit setelah penampilan Everyday, kini giliran Dinno Alshan untuk unjuk gigi. Pria yang juga dikenal sebagai penulis lagu ini tampil selama kurang lebih tiga puluh menit menghibur penonton yang tidak hanya berasal dari daerah Jogja.

Penampilan selanjutnya berlanjut pada Marcell Siahaan, penyayi tembang hits "Firasat" tersebut tidak banyak berinteraksi namun tetap tampil memukau. Tidak kalah memukau, Rio Febrian, Shaggy Dog, serta Trio Lestari memberikan sajian musik yang patut untuk diacungi jempol. Penampilan Trio Lestari sekaligus menutup stage Wisnu dan rangkaian penampilan akan berlangsung pada stage special show. 

Terlihat antrian yang cukup panjang ketiga mengarah pada stage special show. Rick Price menjadi pembuka dari panggung tersebut. Semua penonton yang hadir bak diajak bernostalgia massal olehnya.

Salah satu penampilan yang paling ditunggu di Prambanan Jazz, Boyz II Men akhirnya naik ke atas panggung. Setelah sempat tampil di Surabaya dan Bandung sebelumnya, tidak membuat Boyz II Men nampak lelah. Penonton serasa histeris saat mereka membawakan lagu andalannya sepertin "End of The Road", dan "Hard to Say Goodbye". Walau masih menggunakan format minus one, nampaknya penampilan mereka puaskan penonton yang hadir.

"Penampilan Boyz II Men sangat indah." ungkap Reza Ardianto salah satu penonton Prambanan Jazz yang datang dari Jakarta.

Boyz II Men menutup penampilan mereka dengan sangat elegan. Sebelumnnya, mereka juga sempat membagikan bunga mawar kepada para penonton yang hadir. Tersisa satu penampilan terakhir sebelum hari pertama Prambanan Jazz 2016 usai yaitu Dr. & The Professor yang berkolaborasi bersama Sruti. Walaupun perlahan penonton meninggalkan area venue, penampilan mereka tetap maksimal.

Hari kedua Prambanan Jazz 2016 disambut dengan cuaca yang begitu cerah. Hari itu (Minggu 21/8) diperkirakan akan lebih banyak penonton yang hadir dikarenakan banyak penampilan musisi dalam negeri yang begitu mernarik seperti Yura Yunita, Tulus, Raisa, Glenn Fredly, dan lainnya.

Penampilan pertama pada hari kedua Prambanan Jazz 2016 dibuka oleh MLD Jazz Project. Belum begitu banyak penonton yang hadir namun MLD Jazz Project tetap memberikan penampilan mereka yang terbaik. 

Usai penampilan dari MLD Jazz Project, kini Yura Yunita mengambil alih panggung. Penyanyi muda tersebut berhasil membuat para penonton yang hadir dibuatnya terpukau. Bagaimana tidak? Penampilannya yang santai serta suara indahnya menambah kehangatan sore itu.

Band asal Bandung, Mocca juga turut andil dalam meramaikan Prambanan Jazz 2016 hari kedua. Mocca melantunkan lagu-lagunya tepat menjelang waktu matahari terbenam, menjadikannya sangat indah untuk dilihat dan dinikmati. 

Setelah sempat break, pertunjukkan kini diambil oleh penyanyi cantik Raisa. Raisa yang mengenakan blouse batik tersebut menjadi pembicaraan hangat malam itu. Walau tampil tanpa Afgan, Raisa tetap membawakan hits nya yang berjudul "Percayalah". Setelah tampil empat puluh lima menit lamanya kini giliran Tulus untuk tampil. Pria yang baru saja merilis album ketiganya yang bertajuk "Monokrom" tersebut sempat berbagi kebahagiaan diatas panggung dengan bercerita bahwa ia sempat mendapat kejutan ulang tahun dari para penggemarnya di Jogja. 

Usainya penampilan Tulus menandakan bahwa akan segera berlanjutnya acara di stage special show. Glenn Fredly menjadi musisi pembuka pada stage tersebut. Membawakan sejumlah lagu yang sudah cukup melekat di hati para penonton membuat para penonton turut bernyanyi bersamanya.

Salah satu penampilan yang tidak kalah menarik adalah penampilan Krakatau Reunion. Penonton yang tidak hanya dari kalangan muda, bernyanyi bersama seraya bernostalgia. Telah menghibur selama satu jam, kini giliran Kahitna. Penonton yang sedari tadi konsisten menikmati pertunjukkan menuju larut malam tetap berdiri di tempat. Mereka seraya tidak mau meninggalkan area venue dan memilih untuk tetap menikmati pertunjukkan Kahitna walau besoknya adalah hari Senin. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pertunjukkan terbuka, alam, dan musik yang bagus merupakan sebuah kebutuhan masyarakat Indonesia yang diperlukan dikala rutinitas kerja yang terkadang membosankan.

 

Teks oleh: Ariq Thufail S.

Foto oleh: Ariq Thufail S. dan Dzulyan Alwi.

[REVIEW] INDIHOME BOYZ II MEN INDONESIA TOUR 2016 - BANDUNG

Malam Hangat Penuh Cinta Diiringi Acapella

The Venue Concert Hall, Eldorado, Bandung.

Setelah tahun 2007 dan 2012, tahun ini menjadi kali ketiga grup R&B asal Philadelphia, Pennsylvania, Boyz II Men mengadakan konser di Indonesia. Tidak hanya satu kota, tetapi tiga kota di Indonesia yaitu, Surabaya, Bandung dan terakhir Jogjakarta. Diusung dalam konser yang bertajuk “IndiHome Boyz II Men Indonesian Tour” bersama Rajawali Indonesia Communication dan juga Indi Home. Boyz II Men yang terkenal di era 90-an ini beraksi di depan ragam penggemarnya mulai pukul 20.00 WIB di Eldorado, Bandung, Kamis (18/8).

Trio yang beranggotakan bariton Nathan Morris, tenor Wanya Morris juga Shawn Stockman ini mengonsepkan sesuatu yang berbeda. Di tahun 2012, panggung mereka bercampur dengan para pemain orkestra. Namun, malam itu cukup mereka bertiga saja yang menjadi raja. Tanpa orkestra dan pemain band layaknya konser umumnya, menggunakan minus one salah satu hal yang menarik dalam konser mereka.

Satu jam sudah penonton memenuhi Eldorado sembari tak sabar menunggu. Lebih dari 2500 orang dengan beberapa kelas yang disediakan diantaranya diamond, platinum, gold dan festival. Ada kejadian yang cukup membuat panas sebelum konser dimulai. Tiba-tiba saja hingar-bingar penonton berlarian menuju kursi yang berada paling depan. Adapula yang histeris. Pembatas merah yang menjadi batas antar kelas memang dibukakan secara sengaja oleh penjaga keamanan. Pasalnya, kondisi tempat duduk paling depan yang hanya diduduki beberapa saja mempengaruhi mood dari Boyz II Men sendiri menurut salah satu panitia dari konser Boyz II Men. Tetapi, konser tetap berjalan dengan aman juga sorak-sorak penonton saat lampu dimatikan, pertanda 3 pria berkulit hitam ini sebentar lagi memimpin pertunjukkan.

Kompak memakai pakaian yang serba putih, menjadikan mereka sorotan utama malam itu. Shawn sempat melambaikan tangan untuk menyapa penonton setianya. Disambung dengan ‘On Bended Knees’ yang sontak diawali teriakan penonton kemudian bernyanyi bersama. Suasana yang tercipta begitu romantis.

Shawn yang tak memakai topi sepeti dua rekannya, mulai memperkenalkan satu persatu. Bermulai dari Wanya Morris dengan sebutan best singer olehnya. Lalu, giliran Wanya Morris memanggil saudara kandungnya, “Mr. Nathan Morris”, ujar Wanya bersuara gagah. Dilanjut, Shawn yang diperkenalkan oleh Wanya. Lalu, mereka bergerak ke belakang untuk mengambil kursi sembari menyenandungkan tembang ‘4 Seasons Of Loneliness’ dalam album “Evoution” di tahun 1997. Terhanyut dalam suara mereka, terlihat penonton bernyanyi bait demi bait sembari menggerakkan kanan-kiri badannya.

Lampu oranye menyoroti tirai panjang berwarna coklat disekitar panggung, menambah indah malam pertunjukkan Boyz II Men. Shawn yang ingin menambah memoar indah dalam benak penggemarnya, mengajak untuk menjetikkan jari ke atas dan kebawah. Sembari intro dari lagu ‘Water Runs Dry’ berputar, “Anda tahu ini lagu apa? Mari kita bernyanyi!” ujar Shawn mengajak penonton. Tidak hanya bernyanyi lalu diam di tempat, Shawn dan dua Morris menari dengan melangkahkan kaki ke kanan-kiri disertai gerakan kepala yang sama arahnya.

Dilanjut dengan lagu ‘I’ll Make Love To You’, sesi yang menyenangkan bagi kaum perempuan. Shawn, Nathan dan Wanyan Morris masing-masing membawa setumpuk tangkai mawar merah yang sengaja dibagikan. Ada yang berlari menuju depan panggung hanya untuk mendapatkan bunga istimewa langsung dari idola mereka, bertatap muka secara dekat maupun berjabat tangan yang hanya persekian detik. Wajah mereka begitu bahagia ditambah harmoni dari acapella suara Boyz II Men.

Nathan Morris malam itu memakai topi sambil memimpin lagu dengan bariton yang merdu. Hits di tahunnya, lagu ‘A Song For Mama’ ternyata tak dilupakan oleh generasi muda mereka. Eldorado seakan bergema dengan suara ribuan penonton yang bernyanyi penuh hati untuk mama mereka. Boyz II Men benar-benar sukses mendalami lagu ini.

Selama 60 menit mereka sudah tampil sangat istimewa dengan memanjakan dan menghibur penontonnya. Membawakan lebih dari 10 lagu, Boyz II Men yang sempat mewarnai tangga lagu dalam chart Billboard ini mengucapkan terima kasih kepada semua penontonnya malam itu. Lampu warna hijau dikolaborasi tembang ‘End Of The Road’ juga ‘Motownphilly’ seakan menjadi penghabisan energi terakhir para Boyz II Men.

Konser berakhir tepat pukul 21.00 WIB. Lampu secara serentak dinyalakan. Terlihat wajah-wajah mereka, baik yang sudah berumur maupun muda begitu tak menyangka idolanya menyudahi pertunjukkan. Ada yang masih berfoto bersama-sama di depan panggung dengan memasang wajah bahagianya.

Terdengar musik yang sengaja diputar berjudul ‘One Sweet Day’, lagu ini hasil dari kolaborasi antara Boyz II Men bersama Mariah Carey ditahun 1995. Bukannya bergerak pulang, tetapi mereka malah bernyanyi bersama didalam gedung. “Hiburan banget buat kita-kita yang seneng lagu-lagu everlasting love song kaya gini jadi ajang nostalgia,” ungkap Vitrie Ariamitha salah satu penonton yang hadir ini dengan sumringah. 

 

Teks oleh: Cynthia Novianti

Foto oleh: Saska Paloma Gladina

[REVIEW] INDIHOME BOYZ II MEN INDONESIA TOUR 2016 - SURABAYA

Kembali Bernostalgia Bersama Boyz II Men

Dyandra Convention Center, Surabaya.

Bertepatan pada hari kemerdekaan bangsa Indonesia ke 71 pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu, boyband legendari asal Amerika, Boyz II Men telah resmi menggelar konser tunggal mereka di Surabaya.  Bertempat di Dyandra Convention Center Surabaya, konser yang bertajuk "IndiHome Boyz II Men Indonesia Tour 2016" tersebut tepat dimulai pada pukul 20.30 WIB.

Kompak mengenakan busana berwarna putih, trio vokalis yang digawangi oleh Nathan Morris, Shawn Stockman, dan Wanya Morris ini langsung menyanyikan lagu andalan mereka yang berjudul “On Bended Knee” sebagai lagu pembuka. Lagu tersebut disambut meriah oleh para penonton yang hadir, serasa nostalgia di masa lampau.

Penonton yang menyaksikan konser Boyz II Men malam didominasi oleh penikmat musik tahun 90an. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mereka saat melihat penampilan trio ini, sampai-sampai penonton yang duduk di kelas festival pun rela berdiri di atas kursi nya untuk menyaksikan penampilan grup kesayangan mereka ini.

Suasana semakin riuh ketika Shawn Stockman mengajak penonton yang ada di depan panggung untuk maju mendekati panggung di lagu "I’ll Make Love To You". Memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasi para penonton yang hadir, Boyz II Men meminta panitia untuk membuka pagar batas agar penonton kelas festival di belakang dapat maju kedepan dan melihat penampilan mereka lebih dekat. Tidak hanya itu, mereka juga membagikan bunga mawar kepada para penonton yang hadir di lagu akhir, End of The Road.

Diantara banyaknya pujian atas penampilan Boyz II Men malam itu, tim Jakarta Concerts mendapat sebuah kritik melalui akun instagram kami dari salah satu penonton yang hadir. David Santoso mengatakan bahwa ia sedikit kecewa atas penampilan Boyz II Men yang tampil dengan format minus one. Hal ini dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi pihak promotor maupun pihak Boyz II Men agar dapat memberikan penampilan yang lebih maksimal.

Kurang lebih selama enam puluh menit berlalu, Boyz II Men pun pamit. Rangkaian tur mereka akan berlanjut di Bandung pada tanggal 18 Agustus 2016.

 

Teks dan Foto oleh:  Wibie Wibisana

 

[REVIEW] WE THE FEST 2016 - DAY 2

Hujan Bukan Lagi Masalah Untuk Menikmati We The Fest Hari Kedua

Parkir Timur Senayan, Jakarta

Dijadwalkan untuk open gate pukul 13:30 WIB sempat tertunda menjadi 14:00 WIB dikarenakan arena venue yang belum kondusif akibat hujan deras kemarin. Antrian panjang sudah terlihat di luar arena We The Fest 2016, banyak concert goers yang hadir lebih awal. Ketika gate pertama dibuka, banyak yang berlarian menuju WTF stage. Namun karena stage tersebut belum siap, mereka harus menunggu kurang lebih 30 menit hingga stage dibuka. Banyak yang berlarian menuju stage utama tersebut, entah mereka tidak sabar untuk menonton Barasuara atau penampil lainnya. 

We The Fest 2016 dibuka dengan penampilan West Jam Nation, salah satu pemenang dari Submit Your Band Showdown. Walaupun mengalami keterlambatan, Barasuara yang dijadwalkan seharusnya tampil pada jam 14:45 WIB tetap semangat ketika naik ke atas panggung. Banyak yang ikut bernyanyi bersama mereka, terlebih banyak juga yang ingin mengetahui kejutan apa yang akan diberikan Barasuara sesuai dengan janji mereka. Ternyata mereka membawakan lagu Samara yang akan menjadi single mereka berikutnya khusus di We The Fest 2016. Tak jemu-jemu Iga Massardi selaku front man Barasuara berterima kasih kepada alam karena cuaca cerah yang mendukung summer festival tersebut. Semua concert goers melebur menjadi satu dengan emosi yang diberikan Barasuara saat memainkan lagu Api dan Lentera. 

Banyak yang tetap berdiri di panggung WTF stage, banyak juga yang perlahan pindah ke stage lain. Kini giliran band Naif mengambil alih WTF Stage. Naif yang memiliki tradisi untuk menanyakan para penontonnya, apa lagu yang harus mereka bawa selanjutnya menambah semaraknya penampilan mereka. Lagu seperti Piknik 72, Jikalau, dan Benci Untuk Mencinta dibawakannya. Walaupun set mereka terpotong, concert goers tetap menikmati penampilan mereka. 

Cuaca kembali tidak bersahabat, sedikit rintik-rintik mulai turun dikala The Marching Halos sedang tampil menghibur concert goers di jalanan sepanjang area We The Fest 2016. Disaat yang bersamaan, Kelompok Penerbang Roket juga sedang menghibur concert goers yang hadir di This is B.A.N.A.N.A.S stage.

Hujan pun akhirnya turun dikala Sheila on 7 naik ke atas panggung. Panitia We The Fest 2016 yang sigap telah membagikan jas hujan melalui para penjaga di barikade depan area panggung WTF stage. Sheila on 7 berhasil membawa para concert goers bernostalgia kembali ke awal tahun 2000-an dengan lagu-lagu mereka seperti Seberapa Pantas, J.A.P, dan Dan.

Salah satu musisi lokal tanah air yang wajib untuk dilihat adalah Kimokal. Duo elektronik asal Jakarta ini berhasil mengumpulkan concert goers untuk menyaksikan penampilan mereka di This is B.A.N.A.N.A.S. stage. Tidak perlu diragukan lagi kualitas penampilan mereka yang layak disandingkan dengan musisi mancanegara. 

Hujan yang terus berlanjut menyebabkan Lightcraft, Sommerhaar, Indische Party, dan Monkey To Millionaire tidak dapat menghibur concert goers. Panggung Another stage resmi di bubarkan dan concert goers hanya diberi dua pilihan panggung utama saja. Secara bersamaan, Breakbot dan Alina Baraz tampil di masing-masing stage tersebut.

Ta-ku yang tampil live bersama Wafia berhasil membawa concert goers yang sedang tergila-gila dengan single nya yang berjudul Meet In The Middle bergoyang bak tak peduli dengan hujan deras. Penampilan musisi asal Australia tersebut benar-benar menghipnotis concert goers yang menyaksikannya.

Keadaan WTF stage semakin ramai, banyak concert goers yang tidak sabar melihat penampilan The Temper Trap. Walaupun sudah pernah beberapa kali ke Indonesia, The Temper Trap yang baru saja mengeluarkan album terbarunya yang bertajuk Thick As Thieves tetap ditunggu oleh para penggemar setianya. The Temper Trap yang membuka penampilan dengan lagu Thick As Thieves disambut meriah oleh concert goers, apalagi ketika Dougy menyapa mereka dengan lancar menggunakan Bahasa. Performa, tata cahaya, hingga tata suara The Temper Trap menjadi juaranya pada malam itu. Mereka pun menutup penampilan mereka dengan lagu Sweet Disposition.

Kini saat nya penampilan yang paling ditunggu akan segera tampil. Banyak concert goers yang berteriak "Matty! Matty Matty!" di jeda pergantian musisi. Ternyata, mereka yang sedari siang tadi menunggu adalah para penggemar dari The 1975. Band asal Manchester yang sudah ditunggu-tunggu ini akhirnya naik ke atas panggung tepat pada pukul 21:35 WIB. Mereka membuka penampilan dengan membawakan lagu Love Me dari album terbaru mereka, I Like It When You Sleep, For You  Are So Beautiful Yet So Unware of It. Hujan sempat berhenti ketika The 1975 tampil. Membawakan sekitar 14 lagu, mereka tampil dengan sangat enerjik. Bahkan, banyak concert goers yang semakin maju ke depan agar dapat menikmati penampilan mereka lebih dekat. 

Penampilan Blonde pun tidak kalah menarik, banyak concert goers yang tidak sabar untuk menunggu penampilan mereka di This is B.A.N.A.N.A.S stage. Namun, banyak juga yang masih tidak beranjak dari WTF stage untuk menyaksikan Mark Ronson. Rintik hujan pun kembali terasa ketika Mark Ronson tampil untuk menutup summer festival We The Fest 2016 ini. 

 

Teks oleh : Clara Egi Krisnari

Foto oleh: Achmad Sonni, Melina Anggraini, dan Sancoyo Purnomo

 

[REVIEW] WE THE FEST 2016 - DAY 1

Kembalinya Summer Festival di Jakarta Yang Ditunggu

Parkir Timur Senayan, Jakarta

We The Fest, siapa yang tidak tahu summer festival dari Ismaya Live tersebut? Anak muda Ibukota, luar kota, maupun luar negeri beramai-ramai berdatangan bersama kerabat dan orang terdekatnya hanya untuk kembali merasakan perpaduan antara musik, seni, dan ragam kuliner.

Masih bertempat di Parkir Timur Senayan, We The Fest hari pertama ini (13/8) sudah ramai didatangi oleh concert goers yang hadir sejak pukul 12:00 WIB ini baru akan dibuka pada pukul 13:00 WIB. Terdapat dua panggung utama dan satu panggung kecil dalam We The Fest Kali ini. Dua panggung utama adalah WTF Stage dan This is B.A.N.A.N.A.S stage. Sedangkan satu panggung lainnya disebut Another stage. 

We The Fest 2016 hari pertama dibuka oleh penampilan band asal Medan, Pijar, yang telah melewati tahap audisi dari "Submit Your Band Showdown" di panggung This is B.A.N.A.N.A.S stage. Tidak lama setelah penampilan Pijar, Matter Halo siap untuk tampil di WTF stage. Meski belum banyak yang hadir dan terik matahari tidak dapat di hindari, Matter Halo tetap menampilkan penampilan maksimalnya.

Kembali pindah ke This is B.AN.A.N.A.S stage, Sajama Cut akhirnya kembali untuk tampil di depan para penggemarnya. Sejumlah single andalan seperti Whores of the Orient, Bloodsport, Alibi, Paintings/Paintings/ dan lainnya dibawakan oleh mereka. Penampilan mereka yang terlihat selalu enerjik tidak perlu lagi untuk diragukan. Concert goers yang hadir semakin memadati panggung This is B.A.N.A.N.A.S stage. Diketahui bahwa setelah Sajama Cut, Polkawars akan segera tampil. Polka Wars membuka penampilan mereka dengan membawakan lagu Horse Hooves dari album Axis Mundi. Mereka berhasil memenangkan hati concert goers dengan membawakan lagu Can't Feel My Face milik The Weekend's.

Setelah merasakan keseruan dua panggung utama We The Fest 2016, ini saatnya merasakan keseruan panggung khusus yang lebih mengarah kepada panggung intim yang diberi nama Another stage. Biasanya, concert goers dapat duduk santai dan mendengarkan alunan musik dari para musisi independent tanah air. Setelah Deredia membuka panggung ini, kini giliran Silampukau yang menghibur. Silampukau berhasil mengumpulkan penikmat musik indie, atau bahkan mereka yang hanya tertarik untuk duduk santai dan menggerakkan kepala mereka senada dengan alunan Silampukau.

Penampilan yang memukau lainnya datang dari band asal Bandung, Homogenic. Tidak banyak yang ikut melantunkan alunan lagu mereka, namun banyak sekali concert goers yang hadir dan menyaksikan penampilan mereka. Visual yang mereka tawarkan juga tidak membosankan, dan itulah yang mengundang banyaknya mata yang mengarah kepada mereka hari itu.

Salah satu penampilan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Rich Chigga, rapper fenomenal berkat video single Dat $tick nya tersebut naik ke atas panggung mengenakan kaos putih bertuliskan "Hilary Clinton thick AF". Penampilannya yang cukup nyeleneh dengan mengeluarkan kata-kata kasar nampaknya menjadi gimmick dari Rapper muda ini. Siapa sangka, concert goers yang cukup memadati This is B.A.N.A.N.A.S stage mengikuti lirik lagu Dat $tick dengan mudah dan lantang. Penampilannya yang agak kaku menjadi suatu pembelajaran baru untuk Rich Chigga agar lebih ekspresif di penampilannya mendatang.

Acara sempat tertunda sebentar dikarenakan cuaca yang mulai tidak mendukung summer festival ini. Nampaknya hujan akan segera turun dan concert goers pun berlarian menyelamatkan diri ke tenda atau stall terdekat. Tepat pada jam 18:25, Adhitia Sofyan tetap tampil di Another stage. Memainkan lagu andalannya seperti Adelaide Sky dan Blue Sky Collapse di tengah rintik hujan menambah kehangatan malam itu. 

Walaupun hujan belum berhenti, pihak Ismaya Live sempat membagikan beberapa jas hujan kepada concert goers. Namun banyak juga concert goers yang kerap membeli jas hujan di luar area We The Fest 2016 dengan harga yang tidak tanggung-tanggung, Rp.50.000!

Disela hujan, Sam Feldt pun terus memainkan musiknya dibalik deck. Nampak tidak ada concert goers yang peduli dengan hujan, mereka kerap bergoyang diiringi musik yang dibawakan Sam Feldt. Confetti dan teriakan-teriakan mereka pun mewarnai gelapnya malam. Usai penampilan Sam Feldt, banyak yang tidak dan memilih untuk diam di tempat sembari menunggu penampilan Purity Ring.

Hujan semakin deras, memaksa para concert goers yang tidak ingin basah kuyup semakin menepi. Kala itu This is B.A.N.A.N.A.S stage sedang di gandrungi oleh para penggemar Dream Koala. Menyalakan rokok, memegang minuman, dan sedikit bergoyang mengikuti alunan Dream Koala mereka rasa lebih baik dibandingkan mengeluh soal hujan. Tidak banyak pula yang bergerak setelah Dream Koala usai, penggemar The Trees and The Wild pun sudah memadapati area penonton. Tidak peduli hujan, The Trees and The Wild tampil maksimal bak menyihir concert goers yang hadir dengan musik mereka. Single terbaru mereka pun, Zaman Zaman, dibawakan dengan indahnya.

Hujan yang semakin deras memaksa panitia dari We The Fest 2016 untuk menutup panggung Another stage. Abenk Alter, Four Twnty, dan Beeswax terpaksa untuk tidak tampil. Bersamaan, Purity Ring menghibur concert goers yang ada di panggung WTF stage. Penampilan perdana mereka di Indonesia disambut baik oleh para concert goers, terlebih ketika mereka membawakan lagu Push Pull dan Begin Again. 

Kini giliran CL mengambil alih panggung WTF Stage. Concert goers serentak lupa dengan kondisi venue yang cukup licin dan berlumpur, mereka asik bergoyang dengan enerjik dengan lagu-lagu dari CL. Walaupun sempat dihujat para pengguna sosial media ketika pihak We The Fest 2016 mengumumkan kedatangan wanita asal Korea Selatan ini, namun semua itu bak dilupakan begitu saja ketika penampilannya memukau banyak concert goers yang hadir.

Penampilan Macklemore dan Ryan Lewis meruppakan puncak penutupan pada WTF stage yang berlangsung bersamaan dengan penampilan George Maple. Macklemore juga baru pertama kali tampil di Indonesia, sudah menarik hati concert goers di setengah penampilannya. Pemenang Grammy ini tampil dengan caranya yang unik, dimulai dari bercerita mengenai buah hatinya hingga memberikan candaan mengenai Brad Pitt yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Brad Pitt's Cousin.  Sejumlah lagu andalan seperti Thrift Shop, Same love, dan Dance Off dibawakan. Macklemore juga mengundang Rich Chigga untuk bergoyang bersama diatas panggung. Lagu Downtown pun dipilihnya untuk menutup penampilan mereka yang fantastis.

Usai melihat penampilan Macklemore, banyak concert goers yang memilih untuk pulang dan mempersiapkan fisik untuk hari kedua We The Fest 2016 dan banyak juga yang memilih untuk menyaksikan penampilan terakhir yaitu Hermitude. Akan menjadi sebuah kerja keras untuk panitia We The Fes 2016 mempersiapkan venue esok hari dari kerusakan akibat cuaca hari ini. 

 

Teks oleh: Afifah Anindya Pradita

Foto oleh: Achmad Sonni, Melina Anggraini, Sancoyo purnomo

 

[REVIEW] SPLASH RUN

Fun Run di Splash Run

Taman Impian Jaya, Ancol, Jakarta.

Acara kegiatan fun run bercampur entertainment tersebut dibuka oleh The Angels' Percussion. Fun run yang dijadwalkan dimulai pukul 15:00 WIB mengalami keterlambatan hinggap ukul 17:30 WIB. Namun, hal tersebut tidak membuat runners patah semangat.

Ramainya runners membuat zona pertama, fun baloon mengalami kepadatan. Hal tersebut membuat antrian tersendat dan kurang nyamannya diantara masing-masing runners. 

"Zona awal yang fun baloon kan harus memanjat, tapi karena runnersnya banyak banget, membuat zona tersebut kurang nyaman untuk dipanjat." ungkap Vania Amelia, salah satu Splash Runners

Kiri ke kanan: Adrian, Rio, Grace, Irina (yang atas), Callista (bawah), Stella, gue, Brigitta Credit: Vania Amelia

Kiri ke kanan: Adrian, Rio, Grace, Irina (yang atas), Callista (bawah), Stella, gue, Brigitta

Credit: Vania Amelia

Keseruan berlanjut saat runners memasuki zona cool foam dimana mereka akan melewati terowongan dan akan disiramkan foam beserta air yang sejuk. Tidak berhenti disitu, runners juga di tembakkan air melalui pistol air yang dikendalikan oleh para panitia. 

Memasuki kilometer ketiga, zona jungle mist, runners diminta untuk melewati berbagai jembatan yang terbuat dari ban dengan konsekuensi apabila jatuh ke bawah, mereka harus melewati berbagai rangkaian yang terbuat dari matras. 

Hampir mendekati garis finish, runners segera mendapatkan semburan glitter dari panitia. Hal tersebut juga menandakan akan segera dimulainya penutupan acara Splash Run dengan penampilan berbagai musisi. Penampilan Project Pop sebagai pembuka memperlihatkan aksi enerjik mereka yang telah menambah keseruan runners malam itu. Sejumlah lagu andalan mereka bawakan. 

Malam semakin larut dan musisi internasional yaang ditunggu pun akan segera naik ke atas panggung. DJ Soda, DJ asal Korea Selatan tersebut menjadi salah satu keseruan yang ditunggu di acara Splash Run. Walaupun tidak membawakan lagu-lagu officialnya, DJ Soda tetap berhasil mengajak runners untuk bergoyang bersama. Keseruan malam itu disambung oleh penampilan DJ Dipha Barus yang langsung meramaikan acara setelah penampilan DJ Soda. 

Walaupun Splash Run dimulai agak terlambat dari waktu yang dijadwalkan, kekecewaan tersebut terbayar oleh penampilan enerjik dan menghibur dari para musisi hebat tanah air serta mancanegara.

 

Teks oleh: Melina Anggraini

Foto oleh:  Splash Run (@splashrun_id)

[REVIEW] SELENA GOMEZ - THE REVIVAL TOUR JAKARTA 2016

Penampilan Ratu Instagram Puaskan Para Penggemarnya di Jakarta

I.C.E BSD City, South Tangerang.

Penantian para penggemar Disney Channel di Indonesia satu persatu terbayar sudah. Setelah kedatangan Demi Lovato pada tahun 2013 dan 2015 lalu, kini giliran penyanyi cantik yang tumbuh besar di Disney Channel dengan serial TVnya, Wizards of Waverly Place, Selena Gomez unjuk gigi.

Selena yang terkenal dengan hit singlenya "Come & Get It" dan "Love You Like A Love Song" tersebut membuka penampilan perdananya dalam rangkaian tur "The Revival" tersebut dengan lagu "Revival". Serentak, Selenators atau nama lain para penggemarnya yang sebagian besar remaja ikut menyanyi bersama. Nampak kebahagiaan terlintas diwajah mereka setelah mengantri sejak pukul 15:00 WIB, sedangkan konser baru dimulai pada pukul 20:00 WIB.

Memiliki followers lebih dari 69.1 juta orang, Selena yang di juluki sebagai ratu Instagram oleh salah satu situs portal berita liputan6.com tersebut sempat mengungkapkan kebahagiaannya bisa tampil di Indonesia dengan mengucapkan "I Love Indonesia" di sela penampilannya. Walau tidak banyak bercakap kepada para Selenators Indonesia, Selena tetap berusaha memberikan penampilan terbaiknya. 

Membawakan lagu andalannya seperti "Same Old Love", "Come & Get It", "Good For You", "Love You Like A Love Song", dan "Kill Em With Kindness" disertai dengan penampilan para penari latar membuat Selena sangat menghibur Selenator yang datang. Ada yang sedikit berbeda dengan Revival Tour di Jakarta dengan di negara lainnya, yaitu tidak adanya encore serta perubahan kostum The Revival Tour yang sedikit tertutup. Nampaknya hal tersebut memberikan pengaruh terhadap penampilan Selena malam itu yang cenderung kurang enerjik.

"Konser Selena Gomez kemarin adalah konser paling seru di Indonesia yang pernah saya tonton. Selena adalah selebriti yang paling saya suka dan saya tidak menyangka Live Nation akan mendatangkannya untuk konser di sini. Dari venue, panggung, tempat duduk, lokasi festival serta timing bisa dibilang bagus. Tidak ada yang bisa saya keluhkan sama sekali. Penjagaan dari pihak sekuriti pun sangat oke, serta responsif terhadap penonton yang kesusahan di kelas festival. Hanya saja, antrian masuk di kelas festival sangat tidak terstruktur. Saya tahu memang orang Indonesia sangat susah diatur, hanya saja kemarin antrian perlu diperhatikan lebih baik karena banyak anak kecil yang kelelahan. Saya sendiri tidak masalah dengan antrian tersebut namun kalau anak kecil sepertinya sedikit kesusahan. Desak-desakan dan menunggu di luar area yang cukup panas kurang menyenangkan bagi mereka yang sudah antri sejak lama. Namun selain itu menurut saya sudah top. Terima kasih untuk Live Nation Indonesia sudah mendatangkan Selena, dan semoga terus membawa musisi-musisi top dunia." Ungkap Theodore Siregar (22), penonton kelas festival yang cukup menikmati penampilan idolanya, malam itu.

Konser Selena Gomez tidak hanya terasa spesial karena penampilan perdananya di Jakarta, namun juga berkat tata suara yang jernih serta pencahayaan panggung yang sesuai dengan konsep keseluruhan konser The Revival Tour. Live Nation Indonesia berhasil memberikan senyuman lebar kepada Selenators yang berjalan keluar area pertunjukkan setelah puas menikmati penampilan Selena Gomez. 

Teks oleh: Melina Anggraini

Foto oleh: Sancoyo Purnomo

[REVIEW] SHIVERINGGROUND 2016

Tanpa Like Mike, Dimitri Vegas Tetap Tampil Maksimal

Ecopark, Ancol, Jakarta

Jakarta kembali di ramaikan oleh salah satu festival musik edm terbaru, ShiverinGGround. Bertempat di Ecopark Ancol, ShiverinGGround yang sukses memberikan hiburan baru untuk para party goers pada hari Jumat (27/5) lalu terbagi menjadi dua panggung. Panggung utama adalah GG Crystal Palace dan panggung lainnya adalah Shiver Electric Cave.

Pembukaan festival ShiverinGGround dibuka oleh Cello pada panggung GG Crystal Palace dan Slim B pada panggung Shiver Electric Cave. Nampak belum terlalu banyak party goers yang hadir. Suasana festival nampak berbeda dari beberapa festival edm yang pernah dibuat di Jakarta sebelumnya. Nampaknya pihak promotor ingin memberikan kesan suasana 'dingin' bak di kutub utara dengan penggunaan ornamen-ornamen es dan penggunaan perpaduan warna dingin seperti biru, hijau, dan putih. 

Semakin larut, party goers yang hadir semakin banyak. Penampilan dari Jay Hardway cukup menarik perhatian party goers yang hadir dan sukses membuat mereka bergoyang bersama. Tidak kalah seru, panggung Shiver Electric Cave pun banyak dipadati party goers yang ingin menikmati alunan musik Pegboard Nerds.

Waktu menunjukkan semakin larut, penampilan utama yang ditunggu yaitu Dimitri Vegas dan Like Mike akan segera tampil. Semua party goers berkumpul di panggung utama untuk menunggu highlight performance ShiverinGGround 2016 malam itu. Namun sayang, saat menaiki panggung Dimitri Vegas terlihat sendirian. Rupanya kawannya, Like Mike tidak dapat hadir dan harus tetap tinggal di Korea karena masalah kesehatan. 

Tampil membawakan lagu-lagu andalannya, Dimitri tetap semangat walau harus tampil tanpa saudaranya. Hampir selesai membawakan set penampilannya, nampak volume dari penampilan Dimitri Vegas diperkecil oleh pihak promotor. Sehingga penutupan penampilan dari Dimitri Vegas dirasa kurang maksimal. 

Total terdapat kurang lebih 17 musisi dari mancanegara, ShiverinGGround memberikan suasana baru untuk penggemar festival musik edm di Jakarta. Untuk kedepannya, promotor dirasa harus lebih jeli lagi dalam pengaturan perijinan dan waktu agar festival dapat berjalan lancar dan lebih maksimal.

 

Foto oleh : Sancoyo Purnomo dan Fajar Mabrury

Teks oleh : Sancoyo Purnomo

[REVIEW] M83 LIVE IN JAKARTA 2016

Rintik Hujan Tidak Padamkan Semangat Concert Goers Untuk Menyaksikan #M83jkt

Lapangan D, Senayan, Jakarta

 

Hujan yang mengguyur ibukota Jakarta sedari sore membuat antrian masuk para concert goers untuk menyaksikan penampilan perdana M83 di Jakarta terlihat sepi. Nampak tidak ada antrian yang menggulung untuk pembelian tiket di loket resmi KiosTix. Hingga pukul 19:00 WIB saat konser dibuka oleh penampilan Bottle Smoker, nampak hanya beberapa baris concert goers saja yang menyaksikan.

Bottle Smoker menghibur para concert goers yang hadir selama kurang lebih 60 menit. Dengan membawakan musik hasil karya orisinil mereka sendiri, Bottle Smoker cukup mendapat apresiasi concert goers yang hadir dengan menyaksikan mereka tanpa peduli dengan rintik hujan yang turun.

Selang 30 menit dari usainya penampilan Bottle Smoker, M83 pun naik ke atas panggung tepat pada pukul 20:35. Concert goers yang sudah menunggu nampak antusias dengan kedatangan band elektronik asal Perancis tersebut. Penampilan perdana M83 tersebut dibuka dengan lagu ‘Reunion’ dari album ‘Hurry Up, We’re Dreaming’ (2011).

Good evening, Jakarta. We’re M83. This is our first time in Jakarta. Thank you for coming despite for the rain.” Ujar Anthony Gonzales, front man dari M83.

Tidak perlu waktu lama untuk membuat para concert goers yang hadir untuk bergoyang bersama alunan musik M83. Baru memainkan lagu kedua yang berjudul ‘Do It, Try It’ yang terdapat pada album terbaru M83, ‘Junk’ (2016), concert goers nampak sudah sangat familiar dengan lagu tersebut dan tidak sungkan untuk bernyayi serta bergoyang. Tata cahaya yang menarik serta kualitas suara yang cukup jernih membuat konser M83 di Jakarta semalam membayar seluruh kegelisahan concert goers atas venue yang kurang maksimal akibat hujan.

Tanpa banyak interaksi, M83 langsung memainkan beberapa lagu tanpa jeda. Seperti Steve McQueen, We Own The Sky, Intro, Walkaway Blues, Ok Pal, dan Bibi The Dog. Penampilan Kaela Sinclair, keyboardis M83 pada lagu We Own The Sky sempat menarik perhatian concert goers yang hadir karena suaranya. 

Concert goers nampak semakin histeris ketika band shoegaze tersebut memainkan intro lagu ‘Midnight City’ dari album ‘Hurry Up, We’re Dreaming’ yang sempat menjadi nominasi album alternative terbaik versi Grammy Awards 2013 serta soundtrack film Warm Bodies tersebut. M83 yang memang terkenal dengan lagu-lagunya yang dijadikan soundtrack film juga membawakan lagu ‘Wait’ (The Fault In Our Stars, Revenge, Gossip Girl), ‘Oblivion’ (Oblivion), dan ‘Outro’ (The Gambler).

M83 membawakan kurang lebih 17 lagu dari album lama hingga terbarunya. Sempat berhenti pada lagu ‘Outroconcert goers yang hadir bersautan “We want more! We want more!) dan M83 pun akhirnya melanjutkan penampilan mereka setelah encore dengan lagu ‘Solitude’. Serentak semua concert goers yang hadir nampak bersemangat kembali.

Konser perdana M83 di Jakarta ditutup dengan lagu ‘Lower Your Eyelids to Die With The Sun’ dari album ‘Before The Dawn Heals Us’ (2005).  Sebuah konser yang cukup memuaskan terutama dari segi tata suara untuk para concert goers dalam menghabiskan malam akhir pekan.

 

Teks oleh: Melina Anggraini

Foto oleh : KiosPLAY

 

 

[REVIEW] DGTL LVE 2016

DISCLOSURE DAN TCHAMI SUKSESKAN DEBUT PERTAMA DGTL LVE

Econvention, Ancol, Jakarta.

Penampilan duo elektronik asal Inggris, Disclosure, menjadi puncak klimaks acara DGTL LVE yang telah digelar hari Rabu (4/5) lalu. Bertempat di Econvention Ancol, pagelaran musik elektronik yang bertajuk DGTL LVE resmi digelar untuk pertama kalinya.  Acara ini merupakan hasil kerjasama promotor lokal Love & Other Things dengan promotor asal Malaysia, The Livescape Group. 

"Hello Jakarta, we are about to party yeah, let's do it," sapa Howard 'Disclosure'.

Kurang lebih tampil selama 90 menit, Disclosure berhasil membuat penikmat musik elektronik yang hadir berdansa bersama tak kenal lelah. Lagu andalan seperti 'Magnet' dan 'White Noise' menambah semangat party goers yang hadir untuk terus berdansa. 'Latch' dipilih oleh kakak beradik tersebut sebagai penutup penampilan mereka. 

Sebelumnya, party goers di suguhkan penampilan yang tidak kalah enerjik dari DJ asal Perancis, Tchami dan beberapa penampilan dari DJ asal tanah air seperti Bima Girindra serta Dipha Barus. Dipha Barus sempat menarik perhatian party goers yang membawakan live lagu single terbarunya bersama Kallula yang berjudul 'No One Can Stop Us'.

Walaupun DGTL LVE diadakan pada hari Rabu dan weekday, suguhan artis yang ditawarkan tidak membuat party goers ingin melewatkan acara ini. Hal tersebut terbukti dari semakin ramainya party goers yang hadir menjelang kian larutnya malam. 

Foto oleh : Fajar Marbury S.

Teks oleh : Melina Anggraini

[REVIEW] THE 8TH INTERNATIONAL KAMPOENG JAZZ 2016

REUNI COPELAND HANGATKAN SUASANA THE 8TH INTERNATIONAL KAMPOENG JAZZ

Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung.

Sabtu lalu, kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur ramai dihadiri oleh para penikmat musik Jazz di Indonesia untuk menyaksikan pagelaran musik The 8th International Kampoeng Jazz. Acara tahunan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Hukum Unpad ini merupakan acara jazz terbesar di bandung. Mengusung tema "City of Jazz", The 8th International Kampoeng Jazz sukses menghibur penikmat musik Jazz yang hadir.

Dengan konsep kota yang penuh akan hiburan musik Jazz, The 8th International Kampoeng Jazz dibagi menjadi tiga area yaitu "Downtown" untuk area bazzar, "Midtown" untuk BNI Lounge Stage, dan megahnya "Uptown" yaitu Main Stage. Sederet nama musisi baik lokal maupun internasional pun telah dijadwalkan untuk tampil malam itu. Seperti Teza Sumendra, Andien, Koes Ploes, Maliq & D'Essentials, Danilla x Mondo Gascaro, dan lainnya.

Sempat hujan saat acara dimulai, tidak menghalangi penikmat musik Jazz yang hadir. Mereka tetap semangat bak tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hingga puncak kepadatan terasa menjelang hari semakin malam. 

Tepat pada pukul 23:00 WIB, band yang ditunggu-tunggu, Copeland, naik keatas panggung. Band yang sempat melakukan rangkaian tur perpisahannya tahun 2010 lalu di Bandung ini kembali untuk tampil dalam rangkaian tur reuninya. 

Copeland yang sempat membawakan lagu single andalannya seperti 'I Can Make You Feel Young Again', 'The Day I Lost My Voice', dan 'Chin Up', nampak kurang tampil maksimal. Band yang beranggotakan Aaron Marsh (vocal, synth), Stephen Laurenson (guitar, backing vocal), Bryan Laurenson (bass) dan Jonathan Bucklew (drum),  terlihat mengatur segala kepentingan penampilannya malam itu tanpa dibantu kru. Alhasil, hasil suara di beberapa lagu di awal terasa sedikit tidak pas. 

Namun hal tersebut tidak membuat para penikmat musiknya kecewa, melainkan bernyanyi bersama atas kembali bersatunya idola mereka. Membawakan sebanyak 17 lagu, Copeland menutup penampilan mereka dengan lagu 'You Have My Attention' . Reuni band asal Amerika tersebut menjadi salah satu hal yang membuat The 8th International Kampoeng Jazz terasa hangat. 

Penonton yang mengira acara telah usai, pergi berhamburan menuju pintu keluar. Namun, siapa yang menduga bahwa masih mystery guest yang dimaksud panitia akan segera tampil. Penonton yang mulai berjalan keluar berlari kembali masuk ke area panggung ketika mengetahui mystery guest yang dimaksud adalah Slank. 

Tanpa basa-basi, band legendaris Indonesia tersebut membuka penampilan mereka dengan lagu 'I Miss You But I Hate You'. Semua penonton pun ikut menyanyi bersama dengan Slank. Aksi panggung Slank yang enerjik menambah keseruan The 8th International Kampoeng Jazz 2016.

 

Foto oleh: Atir Sharif, dan Seanzha Kemal

Teks oleh: Mustiko Nugroho

 

[REVIEW] TAME IMPALA LIVE IN JAKARTA 2016

Ribuan Muda Mudi Ramaikan Konser Tame Impala

Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Kepadatan nampak terlihat di area Parkir Timur Senayan, jumat lalu. Diketahui bahwa band rock psychedelic Tame Impala akan segera menyelenggarakan pertunjukkan keduanya di area tersebut. 

Semakin sore, semakin banyak pula penonton yang memadati area pertunjukkan. Antrian penjualan tiket di loket resmi pun seakan tidak berhenti bekerja. Para calon penjual tiket semakin banyak berseliweran menunggu calon konsumennya.

Pukul 18:00 WIB, gerbang utama resmi dibuka. Penonton yang mayoritas muda mudi berlarian memasuki venue. Rintik hujan yang sempat turun seakan tidak mereka pedulikan sama sekali.

Pagelaran musik band asal Australia tersebut dibuka oleh penampilan band anak muda tanah air, Barasuara. Band yang digawangi Iga Massardi dan cs tersebut membawakan beberapa lagu single andalannya seperti 'Bahas Bahasa', 'Api & Lentera', dan 'Sendu Melagu'. Aksi panggung Barasuara yang memukau membuat para penonton perlahan mulai memadati venue.

Tepat pada pukul 20:00 WIB, Tame Impala naik ke atas panggung. Intro yang dimainkan serta tatanan cahaya khas Tame Impala membuat para penonton nampak histeris. Lagu andalan seperti 'Let It Happen' dan 'Mind Mischief' dimainkan sebagai lagu-lagu pembuka pertunjukkan kedua kali Tame Impala di Jakarta, malam itu.

Banyaknya muda mudi yang hadir membuat venue terasa sesak, namun hal tersebut tidak menghalangi penikmat musik psychedelic yang hadir untuk sepenuhnya menikmati pertunjukkan. Concert goers yang hadir nampak tersihir dengan alunan musik dari band yang digawangi oleh Kevin Parker tersebut.

Antrian tiket yang sedari awal gerbang dibuka tidak berhenti melainkan semakin panjang dan tidak terarah. Kesempatan tersebut digunakan oleh para calo untuk menjual tiket dengan harga yang sedikit lebih mahal dibandingkan harga resmi. Semua semata demi masuk kedalam venue pertunjukkan se-segera mungkin.

Disela pertunjukkan, Kevin sempat menyuarakan rasa terima kasihnya kepada Barasuara sebagai band pembuka, "Hey guys, make some noise, just want to say thank you. Sorry if I say this wrong but Barasuari? Barasuara? That's it. Almost there. Those guys were awesome." Ujarnya. Kesalahan penyebutan nama tersebut sempat membuat penonton yang hadir tertawa.

Tame Impala yang telah merilis album terbarunya yang bertajuk 'Currents' tahun 2015 lalu membawakan langsung beberapa lagu yang ada di album tersebut seperti 'The Less I Know The Better', 'Let It Happen', 'Eventually', dan 'Yes, I'm Changing'.

Penampilan Tame Impala yang berlangsung selama 90 menit ditutup dengan sebuah encore. Lagu yang dibawakan untuk encore adalah 'Feels Like We Only Go Backwards' dan 'New Person, Same Old Mistakes.' Confetti pun meramaikan konser Tame Impala sekaligus menandakan telah usainya pertunjukkan musik band psychedelic tersebut.

 

Foto oleh : KiosPLAY

Teks oleh : Melina Anggraini

[REVIEW] MAGNITUDE HAMMERSONIC 2016

Panas Terik Maupun Hujan Tidak Halangi Para Metalhead Berpesta

Eco Convention, Ancol, Jakarta

Magnitude Hammersonic 2016 telah resmi diselenggarakan pada hari Sabtu (16/04) dan Minggu ( 17/04) yang lalu. Pagelaran musik metal yang dibagi menjadi Magnitude Hammersonic 2016 “The Convention” dan acara utama Magnitude Hammersonic “The Festival” 2016 tersebut ramai dikunjungi oleh metalhead Indonesia dari berbagai macam kota, seperti Cirebon, Bandung, Solo, dan beberapa daerah lainnya diluar dari pulau Jawa.  Magnitude Hammersonic 2016 “The Convention” merupakan rangkaian festival yang baru pertama kali diadakan pada tahun ini, dimana konferensi tersebut berisi rangkaian acara penghargaan dari pihak Hammersonic, acara temu bersama label rekaman musik metal, dan lainnya.

Magnitude Hammersonic 2016 “The Convention” disambut baik oleh para pelaku seni yang bergerak dalam industri tersebut. Sejumlah nominasi seperti Dangerous New Band, Breakthrough, Best Live Band, Soul of Steel Awards, Album of The Year, Inspirational, Most Dedicated Person, Hammersonic Award, Metal Icon Award, Lifetime Achievement Award, dan yang paling ditunggu adalah The Hammersonic Award. Beberapa band metal ternama bersaing untuk mendapatkan The Hammersonic Award, namun yang beruntung adalah band asal Bandung, Burgerkill yang berhasil mendapatkannya. Tidak hanya acara penyerahan award, ada juga sesi meet and greet, meet the agency, meet the label, dan stand up comedy dari Soleh Solihun, serta beberapa penampilan dari Blind To See, Dead Vertical, Divine, Edane, Hypochondria, Jasad, Koil, Noxa, Petaka, Power Punk, Progpaganda, Savor of Filth, dan Revenge The Fate.

Usai dengan rangkaian kegiatan di The Convention, keesokan harinya metalhead yang semakin bertambah banyak jumlahnya sudah mulai terlihat memadati Eco Convention Ancol sejak pagi hari untuk menunggu dimulainya Magnitude Hammersonic 2016 “The Festival”. Dibagi menjadi empat panggung yaitu Hammer stage, Sonic Stage, Soul of Steel stage dan Extreme Moshpit Stage, penampilan pertama dibuka oleh band Engorging di panggung Hammer.

Pertunjukkan berlangsung cukup meriah dan lancar hingga menjelang break maghrib. Cuaca yang seketika mendung memaksa para metalhead melipir untuk berteduh dan acarapun terpaksa ditunda selama kurang lebih tiga jam dari jadwal yang diperkirakan. Sebelumnya, pertunjukkan di panggung Soul of Steel juga sempat tertunda. Burgerkill yang dijadwalkan naik ke atas pangung pada pukul 17:00, baru mulai tampil pada pukul 19:00 WIB.

Setelah dirasa cuaca cukup memungkinkan untuk melanjutkan acara, Walls of Jericho tampil tepat sekitar pukul 21:00 WIB. Nampak terlihat para musisi yang tampil memotong waktu penampilan mereka demi berjalannya acara sesuai dengan waktu yang disepakati oleh pihak penyelenggaran dengan pihak pengelola tempat.

Setelah Walls of Jericho, kini giliran Leaves’ Eyes yang tampil di panggung Sonic. Nampak ada yang berbeda dari penampilan perdana Leaves’ Eyes di Jakarta ini. Penyanyi wanita yang biasa tampil dalam grup musik asal Norwegia ini bukanlah Liv Kristine, melainkan Elina Siirala penyanyi asal Inggris. Namun hal tersebut tidak membuat metalhead kecewa, dan tetap semangat bernyanyi bersama di tengah rintik hujan yang mulai reda.

Selesai dengan penampilan Leaves’ Eyes, metalhead pun kembali ke panggung Hammer untuk menyaksikan penampilan Gorgoroth. Kurang lebih 45 menit metalhead di hibur oleh Gorgoroth, dan seakan tidak memberi jeda untuk metalhead istirahat, pertunjukkan kembali dilanjutkan di panggung Sonic dengan menampilkan band asal Texas, Drowning Pool. Ada yang berbeda ketika panggung Hammer yang terlihat sepi apabila sedang ada pertunjukkan berlangsung di panggung Sonic, justru keramaian lebih padat di panggung Hammer. Metalhead penggemar Asking Alexandria telah berkumpul untuk menonton idola mereka dari dekat.

Asking Alexandria menghibur para penggemarnya atau yang biasa disebut AAFamily dengan lagu I Won’t Give In sebagai pembuka pertunjukan perdana mereka di Indonesia. Sembari melakukan promosi untuk album terbarunya yang berjudul The Black, Asking Alexandria mengajak metalhead Indonesia untuk berinteraksi dengan membuat circle pit dan lainnya. Dihibur selama 60 menit, Asking Alexandria menutup penampilannya di Magnitude Hammersonic 2016 dengan lagu The Final Episode.

Tersisa dua penampilan terakhir setelah Asking Alexandria yaitu Angra dan Suffocation. Kedua band metal tersebut sangat di nantikan pula oleh metalhead yang hadir, hal itu terbukti ketika acara yang berlangsung melebihi pukul 00:00 WIB masih ramai hingga pertunjukkan benar-benar usai. Perubahan tempat Magnitude Hammersonic 2016 memang dirasa lebih baik karena dapat menampung metalhead yang hadir lebih banyak, namun nampaknya pihak promotor harus lebih memerhatikan kondisi tempat dan sarana berteduh ketika cuaca dirasa kurang bersahabat.

Teks oleh : Melina Anggraini

Foto oleh: Sancoyo Purnomo

[REVIEW] 30TH ANNIVERSARY CONCERT SHEILA MAJID: KERINDUAN

Malam Nostalgia Bersama Sheila Majid

Plenary Hall JCC, Senayan, Jakarta.

Malam itu (02/4) menjadi pengobat rindu yang ampuh bagi para pengikut setia Sheila Majid, pasalnya konser untuk memperingati 30 tahun diva asal Malaysia tersebut berkecimpung di dunia tarik suara akan segera dimulai. Antrian masuk yang awalnya sepi saat dibuka pukul 18:00 WIB perlahan mulai ramai dan penontonpun memadati kursi depan panggung sampai belakang Plenary Hall JCC, Senayan.

Suasana konser disambut megah dengan pembukaan dari iringan orkestra oleh Tohpati Orchestra dan visual karangan Jay Subyakto. Lagu 'Warna' menjadi pembuka konser dengan gemuruh tepuk tangan yang saling bersahutan. Tanpa jeda, Sheila Majid pun melanjutkan dengan lagu keduanya yang berjudul 'Tua Sebelum Waktunya'. 

'Cinta Jangan Kau Pergi' adalah balada yang bisa jadi salah satu tembang yang paling dinantikan di konser 30 tahun Sheila Majid ini, riuh tepuk-tangan dan sahut-sahutan nyanyian potongan lirik tak henti-hentinya bergantian meramaikan suasana malam itu. 

Sempat berkolaborasi dengan Mike Mohede dan Armand Maulana, Sheila Majid berhasil menyatukan berbagai karakter suara yang berbeda menjadi satu kesatuan yang sangat indah untuk di dengar. Tidak hanya itu, Harvey Malaiholo pun tampil dari atas kursi VIP untuk berduet dengan Sheila Majid pada lagu 'Begitulah Cinta'. Sheila yang tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kejutan terlihat sangat terkejut dan tidak bisa banyak berkata-kata diatas panggung selain ucapan terima kasih kepada Harvey yang kabarnya menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan Sheila malam itu sehabi pulih dari sakitnya yang membuar Harvey harus dirawat di rumah sakit.

Sheila yang tampak anggun dengan tiga gaun buatan Sapto Djojokartiko tersebut bak tidak kehabisan energi untuk menyapa para penggemarnya di Jakarta. “Saya sangat senang kembali kesini. Mari bersama- sama rayakan 30 tahun karir saya. Rindu tak dengan saya? I rindu you too!”ujar Sheila Majid yang kerap membuat penggemarnya tertawa.

Dukungan musisi lokal tanah air pun terlihat dengan jelas saat area kursi VIP dan VVIP dipenuhi oleh mereka para penggemar Sheila Majid seperti Dhea Ananda, Luna Maya, Bebi Romeo, Masya Siregar, Dewa Budjana, bahkan Vina Panduwinata nampak hadir pada barisan terdepan. 

Konser perayaan 30 tahun Sheila Majid dalam berkarir tersebut diakhiri dengan lagu 'Sinaran' yang membuat seluruh penonton yang hadir berdiri dari kursi mereka dan ikut bernyanyi serta bergoyang bersama. 26 Gemilang berhasil memikat hati para penikmat musik yang hadir dengan event pertamanya ini.

Teks oleh : Deni Iqbal Teruna

Foto oleh : Melina Anggraini

[REVIEW] I Am Hardwell - United We Are Live in Jakarta

Tiga Jam Bersama Hardwell di Akhir Pekan

Pantai Karnaval Ancol, Jakarta.

DJ Robbert Van De Corput atau yang lebih dikenal dengan nama Hardwell telah menggelar konser keduanya di Indonesia, sabtu (02/4) lalu. DJ asal negeri Van Oranje ini sukses menyihir Pantai Karnaval Ancol dalam tur promosi album perdananya yang berjudul 'United We Are' yang telah dirilis bulan Januari lalu.

Terhitung sejak pukul 22:00 WIB, area Pantai Karnaval Ancol sudah dipadati para party goers dari berbagai negara. DJ muda dengan paras Indonesia - Belanda, Kill The Buzz menjadi penampil pembuka malam itu. Kurang lebih selama 1.5 jam party goers dihibur oleh Kill The Buzz sebelum penampilan utama yang ditunggu malam itu tampil. 

Tepat pukul 00:00, Hardwell membuka penampilannya dengan membawakan lagu 'United We Are' yang membuat party goers bergoyang sambil bernyanyi. Tanpa jeda, Hardewell membawakan lagu 'Arcadia' dan 'Colors' yang terdapat dalam daftar lagu di album barunya. Tidak hanya membawakan lagu sendiri, Hardwell juga membawakan lagu dari Galantis, Alesso, The Weekend, Coldplay, David Guetta & Showtek, Lost Frequencies, Calvin Harris & Desciples, Justin Bieber, serta Linkin Park.

Tampil diatas panggung selama 3 jam, Hardwell menutup penampilannya dengan membawakan lagu 'Bird Fly' dan 'Elipse' secara berurutan. Lagu tersebut menempati urutan terakhir dan pertama dalam list album 'United We Are'. Sekali lagi, Ismaya Live mampu membuat seluruh party goers yang hadir,  bergoyang bersama dan terbawa dalam euphoria yang tak terlupakan. 

 

Teks oleh : Fajar Mabruri Sompa

Foto oleh : Sancoyo Purnomo